Rabu, September 18, 2013

Vicky Prasetyo itu Cermin Wajah Kita

        Di tengah kemuakan atas intrik-intrik politik perebutan kekuasaan, kasus korupsi  yang kian merajalela, kepentingan rakyat yang kian terhambat penyalurannya muncullah Vicky Prasetyo. Orang yang bernama asli  Hendrianto itu langsung mendapat  perhatian luas masyarakat. Tidak saja di media sosial dan televisi, bahkan  bahasa khas yang digunakannya ditiru oleh masyarakat.  Kata-kata pilihan khasnya “statusisasi”, “labil ekonomi” atau “konspirasi”.   Orang boleh menggungat sikap “sok intelek”-nya , namun jangan lupa wajah Vicky itu bisa jadi cermin wajah kita sendiri.


Parodi kemunafikan
Sebenarnya, Vicky Prasetyo  bisa disejajarkan dengan pelawak intelek negeri ini. Ia telah membuat banyak orang terhibur bahkan secara alamiah dan tidak dibuat-buat. Melalui keluguan gayanya ia sebenarnya telah menyentak kesadaran banyak orang. Bahwa ada banyak hal yang hasih perlu dilakukan untuk negeri ini daripada sekadar saling menyalahkan dan saling mempertontonkan kebodohan.

Pertama, betapa selama ini kita menjadi orang yang gampang menyalahkan orang lain hanya orang lain itu berbeda keyakinan, pendapat, aspirasi, dan keinginan. Betapa banyak korban bermunculan akibat gampangnya kita  menyalahkan orang lain. Ketika seseorang  menyalahkan orang lain, tak sadar bahwa apa yang dilakukannya akan diikuti oleh orang lain yang kadang tanpa pertimbangan matang ikut-ikutan menyalahkan.
Lihat betapa kita gampang menyalahkan pejabat, menyalahkan lembaga negara, menyalahkan menteri hanya karena kita rakyat jelata. Sementara itu mereka yang bukan rakyat jelata juga dengan mudahnya mengingkari jati dirinya sebagai pejabat dengan melupakan rakyatnya. Ini bagian lain menyalahkan (meskipun tidak dikatakan secara lisan).
Begitu Vicky Prasetyo muncul lewat rekaman yang bisa diunduh di Youtube, banyak orang memojokkan, menghina, mengolok-olok, dan mengkritik bahasa yang digunakannya. Masalahnya, apakah kita sudah sedemikian sempurna?
Kedua, ekspresi Vicky Prasetyo sebenarnya cermin wajah kita sendiri.  Saat kita menertawakan Vicky kita sedang memparodikan kemunafikan diri sendiri. Seolah wajah dan perilaku kita lebih elegan dan sempurna dibanding Vicky. Semakin kita mengkritik sebenarnya semakin lucu wajah kita dibalik cermin bernama Vicky Prasetyo. Hanya saja kita tidak bisa merasakannya karena cerminnya ada pada diri kita sendiri.

Pelajaran
Lepas dari kenyataan atau kekonyolan Vicky Prasetyo, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik darinya. Pertama, kita tidak terbiasa mencintai budaya sendiri, tetapi terbuai dan senang  mengagung-agungkan budaya lain. Carut carut bahasa yang digunakan Vicky Prasetyo menjadi cermin bahwa kita sendiri juga belum tentu bagus menggunakan bahasa nasional. Sementara itu jargon bahasa menunjukkan bangsa sudah kian terkikis.
Sekali-kali kita menyimak diksi bahasa anak-anak muda sekarang.  Banyak diantara mereka yang memakai bahasa campur aduk. Memang tidak masalah, seandainya itu digunakan dalam percakapan sehari-hari. Masalahnya, bahasa dan pilihan kata itu juga digunakan saaat pelajaran, bahkan pelajaran bahasa Indonesia. Jadilah bahasa Indonesia yang gado-gado. Jadi jika seandainya Vicky Prasetyo memakai bahasa yang gado-gado juga, bukan kenyataan yang aneh. Yang tidak kalah tragis, bahasa Indonesia dengan logat lokal sudah dicampur dengan dialek “lu, gue” dan sejenisnya.
Kedua, tak bisa dipungkiri peran media massa memegang peranan penting bagi terciptanya bahasa yang gado-gado itu. Bahkan bisa dikatakan bahasa anak muda itu sangat dipengaruhi oleh percakapan dan dialog di televisi, khususnya sinetron (disamping juga lewat media sosial).
Televisi telah menanamkan (cultivation) berbagai sikap dan perilaku dalam kehidupan masyarakat. Ia tidak saja memengaruhi, tetapi membentuk budaya baru tanpa mengindahkan budaya asli yang sebenarnya masih perlu dipelihara. Lihat bagaimana percakapan seorang anak kepada orang tua zaman sekarang.
Saat ini memang tidak ada siaran pelajaran bahasa Indonesia seperti yang pernah muncul pada tahun 80-an di TVRI yang diasuh oleh JS Badudu atau Anton M Moeliono. Televisi kita sibuk mengejar rating dan tak mengindahkan apakah tayanganya berdampak buruk atau tidak.
Dengan demikian seandainya lahir “vicky-vicky” yang lain, televisi tidak akan bisa lepas begitu saja dari kesalahan. Vicky Prasetyo adalah fenomena masyarakat yang sedang gila mobilitas vertikal dan membutuhkan pengakuan. Tak jarang karena disorientasi hidupnya seperti itu menyebabkan dia gagap budaya. Anehnya, ia tidak sadar bahwa yang dilakukannya sebenarnya keluguan untuk tak menyebut kebodohan. Vicky Prasetyo adalah cermin muka kita sendiri.


 Sumber: Nurudin, Malang Post, 17 September 2013

Comments :

0 comments to “Vicky Prasetyo itu Cermin Wajah Kita”