Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 10, 2019

Buku: Media Sosial Agama Baru Masyarakat Milenial



Media sosial telah tumbuh dan sangat menentukan sikap dan perilaku masyarakat milenial. Bahkan ia berkembang atau sengaja dikembangkan seolah sebagai agama. Karenanya, masyarakat cenderung mengaca pada media sosial, layaknya ajaran agama itu. Padahal sebagian pesan media sosial perlu diyakini sebagai sebuah kebohongan yang dilegalkan.

Tentu saja, dampak carut-marut pesan media sosial tidak hanya hoaks dimana-mana, tetapi juga suasana saling membenci, mencaci, dan menghujat antar sesama. Melihat perkembanganya, media sosial nyata telah mengancam disintegrasi bangsa. Media sosial telah menciptakan komunikasi di masyarakat berjalan dengan tidak tulus.

Buku ini mengeksplorasi mengapa itu terjadi, bagaimana dampaknya dan apa yang harus dilakukan agar media sosial tidak dijadikan kambing hitam semua sebab. Toh, ketergantngan masyarakat sudah sedemikian besar. Buku yang ditulis berdasar penelitian dan tulisan-tulisan di media massa ini merekam jejak pasang surut pengguna media sosial dan dampaknya di masyarakat serta solusi yang harus dilakukan.
Readmore »»

Senin, Juni 19, 2017

Resensi Buku: Memahami Teknologi Komunikasi dari A-Z

Judul buku: Perkembangan Teknologi Komunikasi
Penulis: Nurudin
Penerbit: PT Raja Grafindo Persada
Edisi: I, April 2017
Tebal: vii-xv + 217
Peresensi: Mulyanto Utomo
Sumber: Solopos, 18 Juni 2017

Satu kalimat penting yang suka tidak suka atau senang tidak senang harus saya sepakati setelah membaca buku Perkembangan Teknologi Komunikasi tulisan Nurudin ini adalah:...sekuat apa pun kita menolak teknologi (komunikasi), pada akhirnya kita akan mengikutinya... itu!

Dalam Bab Implementasi Teknologi Komunikasi buku ini, Nurudin bercerita tentang bagaimana kawan dosennya yang semula berusaha keras untuk tidak memiliki akun facebook, akhirnya terjerumus juga. Bahkan dosen itu lebih khusuk ber-facebook ria dibanding kawan-kawannya yang bahkan sudah mulai bosan.

Menolak kehadiran teknologi (komunikasi) adalah sesuatu yang mustahil di era sekarang. Karena menurut Nurudin sistem sosial budaya di sekitar kita yang telah mengimplementasikan teknologi komunikasi jelas tidak bisa dilawan.

Cepat atai lambat, implementasi teknologi akan diterapkan di sekitar kita. Bukan kita ikut-ikutan, tetapi sistem di sekitar kitalah yang memaksa agar kita mengikutinya. Jika bersikeras menolak, maka konsekwensinya adalah Anda akan ketinggalan (halaman 76).

Readmore »»

Rabu, Mei 17, 2017

Buku Perkembangan Teknologi Komunikasi

Buku ini muncul untuk mengatasi kelangkaan bacaan tentang Perkembangan Teknologi Komunikasi sebagai buku teks wajib mata kuliah. Disamping itu, bisa dipakai bahan bacaan umum karena bahasan serta contoh yang digunakan disesuaikan dengan konteks teknologi modern saat ini. Meskipun berbicara tentang teknologi, namun karena ditulis memakai bahasa tutur, buku ini mudah dipahami.

Buku ini juga mengulas kesalahan pemahaman teknologi yang hanya dipahami sebagai perangkat keras (hardware) saja, padahal teknologi komunikasi itu juga perangat lunak (software). Sebagai kajian aktual buku ini layak dijadikan acuan bacaan masyarakat digital agar terus kritis pada dampak negatif teknologi. Karenanya, penulis buku ini menekankan pentingnya literasi teknologi komunikasi agar  pembaca tidak terjerembab pada ketergantungan teknologi.


Sasaran buku ini; mahasiswa penempuh mata kuliah Perkembangan Teknologi  Komunikasi tingkat sarjana dan master, praktisi teknologi komunikasi, peneliti,  peminat kajian komunikasi, dan siapa saja yang ingin melek dan  tetap kritis pada perkembangan teknologi komunikasi.

Buku ini bisa didapatkan di toko buku seluruh Indonesia.
pemesanan ke penulis plus tanda tangan dilayani di no WA: 085933146622 atau line: nurudinwriter

https://docs.google.com/document/d/1bewOVUzbOCVpsvY-vghcGbJ9OxsqiFFtXa-7dl_dXxc/edit?usp=sharing
Readmore »»

Buku: Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer

Berbeda dengan buku-buku pengantar Ilmu Komunikasi yang lain, buku ini ditulis secara ilmiah populer. Karenanya, bahasa yang digunakan sangat renyah, mengalir, dan mudah dipahami karena memakai bahasa tutur dan disertai banyak contoh. Bahkan saat memahami pesan tulisnya, Anda seperti membaca sebuah novel.


Penulis merasa terpanggil membuat buku ini karena tak sedikit buku-buku pengantar Ilmu Komunikasi dikemukakan menurut kemampuan penulisnya, bukan menyesuaikan pada pembacanya. Maka, tak heran jika buku-buku itu sebenarnya buku tingkat lanjut dengan memakai cover ada kata “pengantar”. Juga, buku-buku itu ditulis dengan hanya menerjemahkan apa adanya dari sumber aslinya, sehingga sering susah dipahami.


Sasaran buku ini; mahasiswa penempuh mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi, peserta matrikulasi program pasca sarjana, praktisi komunikasi, peneliti, jurnalis, peminat kajian komunikasi, dan siapa saja yang ingin pesannya mudah dipahami komunikan.


Buku ini bisa didapatkan di toko buku seluruh Indonesia.

Pemesanan juga bisa ke no WA: 085933146622 atau line: nurudinwriter (plus tandatangan penulis)


https://docs.google.com/document/d/1X8vEothNmnRkJSn1tE5oAjpBGJygJVYSwy-0vdbkYRY/edit?usp=sharing



Readmore »»

Sabtu, Mei 25, 2013

Sistem Pers Indonesia

Setiap negara memiliki sistem persnya sendiri-sendiri dikarenakan perbedaan dalam tujuan, fungsi dan latar belakang social politik yang menyertainya. Akibatnya berbeda dalam tujuan, fungsi dan latar belakang munculnya pers, dan tentunya pula, berbeda dalam mengaktualisasikannya. Nilai, filsafat hidup dan ideologi suatu negara juga telah berperan besar dalam mempengaruhi sebuah pers. Ini juga berarti bahwa sistem yang dikembangkan juga berbeda, termasuk di dalamnya adalah sistem persnya. Erat kaitannya dengan itu, pola hubungan segi tiga antara pemerintah, pers dan masyarakat juga berbeda. Salah satu alasan kenapa kita perlu mempelajari berbagai macam sistem pers adalah untuk mengetahui sekaligus melakukan  perbandingan antar sistem pers. Disamping itu pula agar kita menjadi lebih tahu  dimana posisi sistem pers Indonesia.
Readmore »»

Jumat, November 23, 2012

Buku "Media Sosial Baru dan Munculnya Revolusi Baru Proses Komunikasi

Judul: Media Sosial Baru dan Munculnya Revolusi Baru Proses Komunikasi

Penulis: Nurudin


Penerbit: Buku Litera, Prodi Komunikasi UMM, DPPM DIKTI


Kota Terbit: Yogyakarta


Tahun Terbit: November, 2012


Tebal: 140 + xii halaman



Perubahan di dunia saat ini tidak akan bisa lepas dari peran media sosial.  Ia telah menjadi faktor yang menentukan dalam kehidupan manusia. Pengguna media sosial tidak saja berkomunikasi dengan orang lain, tetapi juga berdoa, mencitrakan diri, memanipulasi pesan,  atau sharing informasi untuk kepentingan tertentu. Banyak para politikus, pebisnis, artis menuai sukses lewat media ini, tetapi juga tak sedikit dari mereka yang hancur karirnya karena media sosial.



Buku ini menyorot realitas media sosial kita dari sudut pandang munculnya revolusi proses peredaran pesan. Ada banyak perubahan yang terjadi sampai perlunya mengonstruksi ulang teori-teori komunikasi berbasis internet.


https://docs.google.com/document/d/1XG609NMVE7sEFMd9odQm_ZTXsbvXoN4a933iO8qmH4s/edit?usp=sharing

Pemesanan:
1.  Pesan ke saya langsung dengan no.  WA: 085933146622 atau line: nurudinwriter
Readmore »»

Senin, November 12, 2012

Tuhan Baru Masyarakat Cyber

Judul Buku: Tuhan Baru Masyarakat Cyber di Era Digital
Penulis: Nurudin
Penerbit: Aditya Media, Yogyakarta
Tebal: 238 + xiii
Pesan: 085933146622/line: nurudinwriter

      Apakah Anda pernah mengamati seseorang yang sering update status di Facebook (FB) atau ngetweet (twitter)? Apakah Anda juga menemukan mereka selalu menulis dan memberitahu bahwa dirinya melakukan hal-hal yang dianggap keren? Atau juga mereka sering meng-upload foto dengan gaya narsis di tempat-tempat yang mereka anggap cool habis atau bergengsi untuk menumbuhkan sebuah citra tertentu? Itu salah satu perilaku braggadocian behavior (braggart berarti pembual atau penyombong).
     Diakui atau tidak, media sosial telah mengubah, memandu, memilihkan apa yang harus dilakukan manusia dan apa yang tidak. Tak heran jika kita tengah menumbuhkan Tuhan baru dalam diri sendiri. Buku Tuhan Baru Masyarakat Cyber adalah kumpulan tulisan tentang media massa yang dimuat di koran, blog, atau tulisan lepas saya dalam beberapa tahun terakhir.

Pemesanan:
No WA: 085933146622 atau line: nurudinwriter
   
Yang berminat bisa hubungi saya via (1) e-mail: nurud70@yahoo.com, (2) inbox FB: Nurudin, (3) PIN BB: 265A5B8D, (4) YM:  nurud70@yahoo.com, (5) twitter: @nurudinwriter Readmore »»

Kamis, Januari 12, 2012

Jurus Jitu Nulis Artikel yang Baik dan Benar


Judul : Jurus Jitu Nulis Artikel yang Baik dan Benar
Penulis : Nurudin
Penerbit : Ghalia Indonesia, Jakarta
Tahun Terbit: 2012
Harga : Rp. 45.000,- (harga bandrol toko)

Ternyata, menulis artikel tidak hanya membutuhkan keahlian teknis semata. Hal pertama yang justru lebih penting adalah bagaimana membangunkan potensi diri. Setiap orang memang punya potensi, tetapi belum dibangunkan. Ada orang yang cerdas, pintar, banyak membaca tetapi kenapa tidak bisa menulis artikel? Orang itu potensinya belum dibangunkan. Sementara ada orang yang punya keahlian menulis sedikit, sementara semangatnya berkobar-kobar justru lebih berhasil. Potensi dan pikiran bawah sadar mampu menggerakkan pikiran. Begitu pikiran bekerja, tangan akan bergerak. Inilah kelebihan dari membangkitkan bawah sadar, disamping kemampuan teknis menulis artikel. Membaca buku ini berarti Anda berusaha menggelorakan semangat menulis artikel. Soal teknis tidak akan bermanfaat jika tak ada “gelombang laut lepas” yang berkobar.
Buku ini tidak berisi kumpulan teori atau bersifat teoritis. Buku ini, berisi pengalaman asli penulisnya selama bertahun-tahun dalam menggeluti dunia menulis artikel. Ditulis dengan bahasa yang “renyah” dan dengan bahasa tutur sehingga mudah dipahami. Buku ini mengupas tuntas bagaimana membangunkan, mengelola dan memperkuat potensi menulis artikel. Buktikanlah bahwa buku ini punya enerji yang mampu menggerakkan.
Type rest of the post here Readmore »»

Kamis, Oktober 28, 2010

Buku Citizen Journalism Sebagai Katarsis Baru Masyarakat


Judul: Citizen Journalism Sebagai Katarsis Baru Masyarakat
Penulis: Nurudin
Penerbit: Buku Litera, DP2M DIKTI, DP2M UMM
Thn Terbit: November 2010

Munculnya blog adalah keniscayaan sejarah. Penyebaran pesan yang sebelumnya dimonopoli wartawan profesional, saat ini bisa dilakukan warga negara biasa. Inilah yang disebut dengan citizen journalism. Bahkan mereka bisa menyalurkan uneg-uneg, ketidakpuasan, ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya secara bebas. Inilah revolusi baru penyebaran pesan.

Buku yang berasal dari hasil penelitian ini mengungkap bahwa ada fenomena menarik berkaitan dengan pemanfaatan blog sebagai katarsis baru masyarakat. Melihat perkembangan citizen journalism yang kian berkembang, dalam jangka panjang mainstream media akan tertantang untuk melakukan kebijakan ulang berkaitan dengan penyebaran pesan itu. Tak sedikit mereka memunculkan rubrik atau tayangan “citizen journalism” versi mainstream media. Sebuah tantangan kritis, tidak saja bagi praktisi jurnalis profesional, tetapi juga para peneliti, akademisi yang selama ini mengamati perkembangan media massa. Buku ini juga mengkritisi teori uses and gratification yang selama ini hanya bicara tentang dampak media saja.

Note: pesan terhadap buku ini, dilayani via e-mail. silakan kirim e-mail ke: nurud70@yahoo.com atau via inbox FB di home blog ini. thanks.
Readmore »»

Minggu, November 08, 2009

Mengungkap jurnalisme masa lalu dan masa kini

Oleh : Pardoyo, Penulis buku, editor, staf Litbang SOLOPOS
(Solo Pos, Minggu, 08 November 2009 , Hal.IV.

Judul : Jurnalisme Masa Kini
Penulis : Nurudin
Penerbit : Rajawali Pers Jakarta
Edisi : I, 2009
Tebal : xvi + 350 Halaman

Seiring perkembangan teknologi komunikasi, di bidang jurnalisme terus mengalami perkembangan. Lebih-lebih setelah muncul internet, definisi mengenai jurnalisme pun mengalami perubahan.

Pengertian jurnalisme yang pada awalnya melekat pada orang yang bekerja di media cetak, saat ini telah berubah berkaitan dengan munculnya citizen journalism (jurnalisme warga). Pasalnya, kini, masyarakat yang tidak mempunyai penerbitan pun bisa menjadi wartawan atas dirinya sendiri, yakni dengan memakai website atau blog. Meskipun hal itu masih menjadi perdebatan, tapi realitas di lapangan demikian.

Bahkan, berbagai media massa pun telah membuka peluang bagi masyarakat untuk menulis tentang peristiwa atau sesuatu yang terjadi di lingkungannya untuk dikirimkan ke media tersebut. Misalnya, di Harian SOLOPOS dibuka subrubrik Ruang Publik. Melalui subrubrik ini siapa pun boleh mengirimkan tulisannya atau informasi untuk dimuat di koran ini.

Kalau subrubrik Ruang Publik lebih khusus bagi warga Solo dan sekitarnya, untuk mereka yang jauh dari Solo, bahkan yang berada di luar negeri pun bisa berinteraksi dengan pembaca koran ini, melalui subrubrik Buku Tamu di setiap edisi Minggu.

Revolusi
Memang, penemuan internet pada 1990-an telah menjadi keniscayaan sejarah dalam teknologi komunikasi yang pengaruhnya luar biasa. Pengaruh ini tak bisa kita hindari. Oleh karena itu, cara berkomunikasi pun telah mengalami revolusi. Cara penyampaian berita yang semula hanya dilakukan dengan cara manual, sekarang cukup dengan email. Surat kabar, televisi, dan radio tidak hanya mengandalkan medianya sendiri, melainkan sudah memakai internet.

Dengan begitu, penyebaran informasi, kini, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Warga negara yang selama ini dipersepsikan hanya sebagai konsumen media, sekarang bisa bertindak sebagai ”jurnalis”.

Seperti diketahui, pengertian jurnalis berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bisa diartikan wartawan, yakni orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita dalam surat kabar, dsb. Sedangkan jurnalisme, masih menurut KBBI, merupakan pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar, dsb.

Dalam proses penulisan berita, menurut penulis buku ini, dulu didominasi dengan pedoman klasik 5W+1H (what, when, where, why, who, dan how) yang mengacu pada fakta-fakta di lapangan, kini dengan jurnalisme baru, konsep klasik itu telah dikembangkan.

Konsep itu dikembangkan menjadi tulisan model naratif dengan mengubah rumus 5W dan 1H. Who menjadi karakter. What menjadi plot. When menjadi kronologi. Why menjadi motif, dan how menjadi narasi. Sehingga, pengisahan berita naratif menjadi mirip kamera film dokumenter. ”Ini menjadi kecenderungan jurnalisme baru,” tutur Nurudin yang selain aktif menulis di media massa juga dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Dalam sejarah perkembangannya, jurnalisme mengalami kemajuan yang berarti. Ini sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi massa. Karenanya, kajian jurnalisme membawa banyak konsekuensi di bidang jurnalisme pula. Yang awalnya dimonopoli media cetak, sudah bertambah dengan media elektronik seperti televisi dan radio. Bahkan, sekarang sudah mewabah internet yang mau tidak mau menyeret pembahasan jurnalisme ke bentuk media baru itu (Halaman 13).

Di Indonesia, media cetak tak lagi cukup disajikan dengan media yang tercetak. Demikian juga media elektronik. Sekarang masing-masing mempunyai wujud dua, selain medianya sendiri, juga media internet. Harian SOLOPOS bukan hanya dalam bentuk media yang tercetak, tapi juga memiliki solopos.com. Harian Kompas memiliki kompas.com. Harian Jawa Pos juga memiliki jawapos.co.id. Demikian pula beberapa televisi seperti RCTI, SCTV, MetroTV, dll, semua itu juga menyajikan dalam media internet.

Oleh karena itu, dalam buku ini, selain disajikan asal-usul jurnalisme, definisi dan ruang lingkup jurnalisme, juga mengungkap konsep-konsep jurnalisme, kualifikasi jurnalis, prinsip-prinsip jurnalisme masa kini, dan topik-topik jurnalisme.
Dalam pembahasan tentang konsep-konsep jurnalisme, dijelaskan sejarah pers dan jurnalisme. Demikian pula dalam pembahasan tentang prinsip-prinsip jurnalisme masa kini, di dalamnya diungkap konsep-konsep baru dalam jurnalisme dan jenis-jenisnya. Misalnya jurnalisme warga negara, jurnalisme presisi, jurnalisme kuning, dsb. Dan, sebelum sampai pada kesimpulan, buku ini juga mengungkap KUHP vs UU Pokok Pers. q -


https://docs.google.com/document/d/1P8ePDLvLrGw9QX_u0gVptdhAsCo_Mpspotyj-ZGYJmU/edit?usp=sharing Readmore »»

Selasa, Mei 12, 2009

Kiat Meresensi Buku di Media Cetak


Selama ini, kita jarang yang tahu untuk apa membaca. Membaca dianggap tidak punya keuntungan pragmatis dan saat itu juga. Tetapi dengan buku ini Anda akan ditunjukkan bahwa meresensi buku juga bisa untuk keuntungan pragmatis misalnya mendapatkan penghasilan. Buku ini akan memberikan petunjuk praktis dan kreatif bagaimana cara mudah meresensi dan diterima di media cetak. Bahkan buku ini pun tidak saja memberikan petunjuk bagaimana meresensi buku bagi penulis pemula, tetapi juga bagi mereka yang sudah mencoba berulang kali, tetapi tidak pernah dimuat. Dengan membaca buku ini, Anda akan dibuka cakrawala tentang keluasan dan kemanfaatan membaca dan menulis resensi buku. Bahkan meresensi buku bisa menjadi jembatan menjadi penulis artikel terkenal

Buku karya praktisi meresensi buku ini memuat: Perbedaan Membaca Biasa dan Membaca untuk Meresensi, Mengapa Harus Meresensi Buku? Langkah-Langkah Persiapan dalam Meresensi, Persiapan Penting Sebelum Menulis, Apa yang Harus Ada dalam Naskah Resensi?, Anatomi Resensi Buku, Apa yang Harus Dikerjakan Setelah Meresensi Buku, Beberapa Hal Yang Harus Dihindari dalam Meresensi Buku, dan Bagaimana Menyiasati Media Cetak.

Judul : Kiat Meresensi Buku di Media Cetak
Penulis : Nurudin
Penerbit: Murai Kencana, Jakarta
Thn Ter : 2009

Type rest of the post here
Readmore »»

Jurnalisme Masa Kini


“Anjing menggigit orang bukan berita, tetapi orang menggigit anjing itu berita”. Ungkapan klasik itu, saat ini telah banyak digugat. Bagaimana seandainya yang digigit itu seorang artis, atau pejabat setingkat menteri, sementara Bejo menggigit anjing? Jurnalisme masa kini akan memilih realitas yang pertama. Termasuk ungkapan klasik “Good news is no news, bad news is good new” juga sudah banyak yang menggugat. Apakah penemuan teknologi uang angkasa bukan berita?

Bahkan Tom Wolfe pernah menganjurkan agar koran-koran di dunia ini segera mengaplikasikan jurnalisme baru (new journalism). Tetapi, ide itu belum sepenuhnya dipraktikan di Indonesia. Media massa Indonesia masih memakai kaidah-kaidah klasik, sementara tuntutan masyarakat kian meningkat disertai dengan perkembangan teknologi internet yang kian canggih. TV kian menjadi pesaing utama media cetak. Jika tidak dilakukan revolusi, media cetak tentu akan ketinggalan zaman. Bahkan Prof Philip Meyer pernah meramalkan jika pada tahun 2040, orang akan menyaksikan koran terakhir yang terbit dan dibaca orang. Di sinilah perlunya pemahaman tentang jurnalisme masa kini perlu ditempatkan.

Buku Jurnalisme Masa Kini ini menawarkan perkembangan jurnalisme baru yang sedang berkembang cepat di dunia ini. Berbagai perubahan, tuntutan reportase, kompetensi jurnalis ikut berubah total. Buku ini memberikan pemahaman, contoh praktis dan bagaimana menghadapi perkembangan yang dahsyat tersebut. Tak lain, agar para calon jurnalis dan peminat kajian komunikasi bisa menghadapi era komunikasi massa di masa datang.

Buku ini mencapai sasarannya pada mahasiswa jurnalistik, wartawan, dan masyarakat umum peminat kajian jurnalisme dan media massa.

Judul : Jurnalisme Masa Kini
Penulis : Nurudin
Penerbit: RajaGrafindo Persada, Jakarta
Thn Terb: 2009

Pada awalnya, manusialah yang menciptakan teknologi untuk mempermudah kerja manusia itu sendiri, termasuk mempermudah berkomunikasi komunikasi. Teknologi yang bisa memperpendek jangkauan dan mempersingkat waktu kemudian diciptakan. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang diciptakan, akhirnya manusia tergantung pada teknologi yang dibuatnya sendiri. Penemuan internet pada tahun 1990-an menjadi keniscayaan sejarah penemuan teknologi komunikasi yang pengaruhnya tidak bisa dihindari manusia.
Berkaitan dengan itu, berbagai perkembangan cara berkomunikasi mengalamai revolusi yang sangat dahsyat. Cara penyampaian berita kepada masyarakat dengan cara “manual” dianggap tidak relevan lagi. Surat kabar, televisi dan radio tidak lagi hanya mengandalkan medianya itu sendiri, tetapi sudah memakai media internet. Internet akhirnya memaksa manusia merumuskan kembali, dan mencari model tentang proses penyampaian berita. Kekuatan internet itu membuat Prof Philip Meyer pernah meramalkan jika pada tahun 2040, orang akan menyaksikan koran terakhir yang terbit dan dibaca orang.

Berkaitan dengan proses penyebaran informasi yang dahulunya dilakukan para jurnalis mainstream media (media utama) seperti jurnalis (wartawan) televisi, radio dan media cetak lain, sekarang sudah banyak yang menggugat. Penyebaran informasi bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, apa saja, dan dengan cara apa saja. Warga negara yang selama ini dipersepsikan sebagai kelompok konsumen media, saat sekarang bisa bertindak sebagai jurnalis. Meskipun masih menimbulkan pro dan kontra munculnya istilah citizen journalism (jurnalisme warga negara) menjadi keniscayaan adanya revolusi dalam penyebaran informasi. Dengan internet dan perantaraan blog, semua orang bisa menjadi jurnalis. Jurnalis karenanya yang berarti proses pencarian, pengolahan, penulisan, dan penyebaran informasi bisa dilakukan semua orang melalui blognya. Inilah kecenderungan jurnalisme baru di era internet ini.

Tak terkecuali, revolusi jurnalisme juga muncul berkaitan dengan bagaimana menyampaikan ide dalam wujud tulisan. Dalam kurun waktu lama, proses penulisan berita didominasi dengan pedoman klasik 5 W + 1 H (what, when, where, why, who, dan how) yang mengacu pada fakta-fakta di lapangan. Dengan jurnalisme baru, konsep klasik itu dikembangkan Roy Peter menjadi tulisan model, narrative dengan mengubah rumus 5W dan 1 H. Who menjadi karakter. What menjadi plot. When menjadi kronologi. Why menjadi motif. Dan How menjadi narasi. Hingga, pengisahan berita narrative jadi mirip kamera filem dokumenter. Ini menjadi kecenderungan jurnalisme baru.

“Good news is no news, bad news is good news”, ungkapan lama yang pernah dipercaya sebagai nilai berita. Tetapi, berita gembira saat ini juga mempunyai nilai berita. Kalau ungkapan itu diyakini kebenarannya, mengapa seorang artis yang melahirkan anak perlu diberitakan? Bukankah itu berita menggembirakan? Ungkapan di atas jelas sudah tidak relevan lagi, bukan?

Tak terkecuali ungkapan Carles A Dana , “When a dog bites a man that is no news, but a man bites a dog that is a news” juga sudah tidak cocok lagi untuk zaman sekarang. Bagaimana jika yang digigit itu seorang menteri atau presiden, sementara yang menggigit anjing tetangga kita yang tidak dikenal masyarakat luas? Menteri dikejar anjing saja sudah menjadi berita, apalagi sampai digigit.

Berita selalu dipahami sebagai sebuah peristiwa yang sudah terjadi. Bagaimana jika peristiwanya belum terjadi, tetapi justru diminati pembaca, penonton atau pemirsa? Coba Anda membuka halaman olah raga, sepak bola terutama. Ketika akan terjadi pertandingan dua klub, koran akan mengulas dan memberitakan berkaitan dengan pertandingan dua klub itu disertai dengan data-data head to head pertemuan keduanya. Bagaimana dengan kasus ini? Pertandingannya belum terjadi, tetapi berita sudah muncul. Inilah kecenderungan baru juga dalam proses pembuatan berita yang layak diketahui juga.

Itu semua menunjukkan adanya revolusi yang besar-besaran dalam jurnalisme. Sejauh litaretur buku yang saya baca, tak banyak, untuk tak menyebutnya tidak ada, buku-buku yang membahas jurnalisme baru sebagai sebuah dampak perkembangan teknologi komunikasi dan tuntutan zaman. Umumnya, buku-buku jurnalisme selama ini membahas sisi jurnalisme secara klasik. Inilah pentingnya buku ini perlu hadir.

Buku ini terdiri dari empat bagian, dan ini juga menjadi prosedur memahami dan membacanya. Sebagai pendahuluan, pembaca diarahkan untuk memahami beragam definisi jurnalisme, ruang lingkup kajian dan kajian ilmiah jurnalisme. Ini secra sederhana dimaksudkan agar pembaca mengetahui bagaimana ranah (wilayah) kajian jurnalisme. Juga agar tidak dibuat bingung mengapa dalam kajian jurnalisme dikaji pers, (media massa), jurnalis dan segala seluk beluk yang berkaitan dengannya.

Bagian pertama mendiskusikan tentang konsep-konsep penting dalam jurnalisme. Di sinilah pembaca mulai diarahkan untuk mengetahui adanya perubahan terus menerus yang terjadi dalam wilayah kajian jurnalisme. Tentang elemen-elemen jurnalisme yang pernah dikemukakan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dijadikan sandarannya. 9 elemen jurnalisme yang dikemukakan mereka relatif baru dalam kajian jurnalisme di Indonesia, sebuah elemen yang melihat dari perspektif yang berbeda disertai contoh kongkrit jurnalisme di Indonesia. Tak terkecuali dengan objektivitas dan nilai berita yang dibuat agar “Indonesia banget”. Sementara itu, sejarah penting diketahui untuk melihat proses perkembangan pers dan jurnalisme yang menjadi konsekuensi perkembangan teknologi komunikasi seperti yang sudah dijelaskan di bagian awal tulisan ini. Sejarah juga menunjukkan pada kita, ada banyak variabel yang ikut menentukan perkembangan jurnalisme di dunia ini, baik menyangkut jurnalis, pemerintah dan teknologi.

Bagian kedua mengkaji khusus tentang jurnalis. Apakah jurnalis selama ini bisa digolongkan sebagai seorang ilmuwan atau hanya orang yang memindahkan fakta-fakta di lapangan ke dalam medianya? Pembahasan ini menantang pembaca untuk mengetahui lebih lanjut. Jurnalis karena bekerja berdasarkan profesionalisme maka ia tidak bisa lepas dari kompetensi. Dengan kompetensi inilah, kerja jurnalis akan lebih berkualitas. Mahasiswa diharapkan mengetahui dan memahami realitas ini. Agar ketika menjadi jurnalis ia bisa mempraktikkannya di dunia kerja. Untuk mencapai kompetensi, pendidikan jurnalisme menjadi penting keberadaannya. Hanya saja pendidikan jurnalisme baru menciptakan jurnalis siap latih dan belum siap pakai. Untuk itulah, dibahas pentingnya pelatihan, short course atau pendidikan dan latihan (Diklat) untuk mempersiapkannya. Tak terkecuali dengan pentingnya keberadaan lembaga-lembaga independen pemberi pelatihan seperti Antara dan Pantau.

Bagian ketiga, dikemukakan munculnya era jurnalisme baru yang menjadi tuntutan era modern. Tak terkecuali dikemukakan beberapa istilah penting yang selama ini dikenal dalam jurnalisme, tetapi belum ada yang membahas dalam buku. Disamping itu, ada juga jenis-jenis jurnalisme yang selama ini dikenal. Jenis ini meliputi genre kebijakan redaksional, proses penulisan dan proses peliputan berita.

Bagian terakhir mencaritakan kasus-kasus aktual yang melingkupi proses jurnalisme. Bagian ini penting dikemukakan agar pembaca mempunyai wawasan luas tentang kondisi mutakhir permasalahan jurnalisme di Indonesia. Kasus aktual tersebut meliputi dampak media yang sedemikian luas di masyarakat dan konflik kepentingan atas keberadaan UU Pokok Pers. Jika kita kembali ke sejarah pers dan jurnalisme seperti yang dikemukakan pada bagian awal buku ini, pembaca akan paham rentetan konflik kepentingan berkaitan dengan konflik kepentingan. Misalnya, dalam sejarah diceritakan adanya kebijakan persbreidel ordonantie yang direinkarnasi menjadi Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Konflik kepentingan juga berkait dengan keberadaan KUHP. Di sinilah pemahaman tentang konflik yang mengitari UU Pokok Pers perlu ditempatkan dan dipahami.

Tentu saja, berkaitan dengan pembahasan dalam buku yang sudah dikemukakan dalam pengantar ini sasaran utama pembacanya adalah mahasiswa komunikasi tingkat lanjut. Mengapa? Sebab, pembahasan lebih menitikberatkan pada pemahaman mendalam konseptual tentang jurnalisme. Di perguruan tinggi yang melaksanakan pendidikan komunikasi mahasiswa semester awal sudah dibekali dengan mata kuliah dasar-dasar jurnalistik, teknik penulisan dan peliputan berita. Buku ini akan melihat peluang kajian teoritis disertai contoh kongkrit dari ranah yang selama ini belum digarap mata kuliah sebelumnya. Bahkan, buku ini melihat pangsa pasar yang juga belum digarap oleh buku-buku jurnalisme yang lain.

Disamping mahasiswa pengambil mata kuliah Jurnalisme, sasaran pembacanya juga masyarakat umum, wartawan dan peminat kajian jurnalisme. Untuk itu pulalah bebagai contoh aktual disertai pembahasan yang ilmiah populer disajikan dalam buku ini. Bahkan dalam beberapa bab diungkap sebuah cerita untuk membuka pemahaman awal tentang permasalahan yang akan dikaji.

Maka, sangat beralasan jika buku ini diberi judul Jurnalisme Masa Kini. Ia bukan saja menunjuk dan memberikan sebuah perspektif baru dari mata kuliah Jurnalisme, namun disesuaikan dengan sasaran yang lain. Jurnalisme Masa Kini dipahammi sebagai kajian baru yang layak diketahui oleh pembaca berkaitan dengan proses peliputan, pengemasan, penulisan, dan penyajian berita. Masa kini juga berarti kajian yang terkini. Jadi, judul buku ini bukan sekadar gagah-gagahan, tetapi karena realitas yang dikaji memang demikian. Jurnalisme Masa Kini juga akan menjadi daya tarik tersendiri masyarakat umum untuk membacanya. Jadi, jangan sampai ada kesan buku teks kuliah an sich. Beberapa buku-buku kuliah yang pernah saya buat memberikan pemahanan, bahwa tulisan ilmiah saja tidak cukup kuat bersaing di pasaran. Ilmiah populer menjadi hal yang niscaya dilakukan. Pengalaman menulis artikel yang saya lakukan sejak tahun 1991, memberikan banyak pelajaran.


https://docs.google.com/document/d/1P8ePDLvLrGw9QX_u0gVptdhAsCo_Mpspotyj-ZGYJmU/edit?usp=sharing Readmore »»

Jumat, November 07, 2008

Membesarkan Perusahaan dengan Media


Judul : Hubungan Media (Konsep dan Aplikasi)
Penulis : Nurudin
Penerbit : PT Rajagrafindo Persada
Terbit : Juli 2008
Tebal : xiii, 174 halaman
Peresensi: Erik Purnama Putra

Perusahaan maupun institusi (lembaga) yang hidup di era modern seperti sekarang tidak akan bisa survive dan berkembang dalam menghadapi persaingan tanpa menggandeng media massa (cetak maupun elektronik). Pasalnya, kekuatan sebuah media diyakini banyak kalangan mampu membangun image positif sebuah institusi. Faktanya, semua perusahaan besar di dunia seperti, Nokia, Microsoft, dan Yahoo, bisa menggurita dan dikenal masyarakat luas berkat membangun jalinan dengan media.

Karena hidup matinya sebuah perusahaan modern mutlak ditentukan hubungan perusahaan melalui kemampuan public relations (PR) atau biasa disebut Hubungan Masyarakat (Humas) dalam menjalankan tugasnya menggandeng media sebagai partner untuk mendongkrak kinerja perusahaan.

Menurut Al & Laura Ries, dalam bukunya The Fall of Advertising and The Rise of PR mengemukakan bahwa untuk dapat memenangi kompetisi, satu-satunya cara untuk mengalahkan kompetitor adalah dengan cara memenangkan pertempuran di media massa. Perusahaan modern biasanya akan membentuk unit kerja yang bernama public relations yang ditugaskan menjalin hubungan baik dengan media.

Pekerjaan sebagai praktisi PR sangat berat karena membawa nama baik perusahaan. Sehingga citra perusahaan dipertaruhkan betul di tangan PR. Jika Humas mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik, otomatis perusahaan akan ikut terdongkrak citra positifnya di mata masyarakat. Karena itu, keberadaan PR menjadi titik sentral bagi terbangunnya image perusahaan.

Era sekarang, di mana segalanya harus melibatkan media massa, maka PR yang cerdik harus mencari celah untuk memaksimalkan adanya media massa bagi keberadaan perusahaan. Pada intinya tugas merangkul media untuk membesarkan perusahaan di mana bernaung tidak boleh tidak dilakukan. Pasalnya jika PR mampu memenangkan pertempuran media, maka hal itu sama saja perusahaan tersebut berhasil mengalahkan kompetitor dan mendapatkan pasar yang diinginkan.

Bukti nyata kekuatan PR modern dalam memenangkan pertempuran di media massa adalah banyaknya Non Goverment Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang hidup dan berkembangnya ditentukan berkat jalinan timbal balik dengan media. Greenpeace, World Wildlife Fund (WWF), PETA, dan Amnesty International bisa menjadi LSM besar dan dikenal masyarakat dunia berkat keberhasilannya menjalin hubungan khusus dengan media yang senantiasa mempublikasikan setiap acaranya.

Al Ries & Laura Ries dalam The Fall of Advertising and the Rise of PR, mengemukakan, zaman periklanan sudah sampai di titik nadir, dan digantikan perannya oleh PR. Hal itu terjadi karena sebagian besar iklan saat ini cenderung tidak mencerdaskan, bahkan ada yang sampai membodohi masyarakat (konsumen).

Karena itu, tugas dan fungsi Humas adalah sebagai instrument yang berfungsi menyampaikan keunggulan sebuah produk maupun jasa yang ditawarkan perusahaan kepada masyarakat, yang diharapkan bisa membentuk citra positif kepada pihak ketiga (target sasaran). Satu-satunya cara agar tujuan perusahaan tersebut bisa terealisir adalah menggandeng dan terus menjaga hubungan baik dengan pihak media.

Untuk itu, media relations adalah wajib hukumnya bagi PR karena keuntungan menjalin hubungan dengan media bisa berdampak pada meningkatnya brand image, yang berujung pada meningkatnya produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen atau pasar.

Jika dulu iklan dipandang sebagai cara ampuh untuk membentuk citra perusahaan, sekarang tidak lagi. Perusahaan yang berwawasan modern saat ini pasti mengandalkan kemampuan Humas. Karena sekarang masyarakat cenderung sudah cerdas dan selektif dalam menilai iklan yang dipasang di media.

Karena itu, celah untuk dapat membentuk citra positif adalah dengan menerapkan strategi public relathionship dengan media massa agar merek produk maupun jasa yang ditawarkan dapat dipublikasikan dan dikenal hingga masuk dalam benak masyarakat. Tanpa melibatkan media, mustahil bisa dikenal masyarakat. Karena di tengah arus informasi yang cepat berubah mustahil perusahaan maupun institusi bisa berkompetisi dan bersaing tanpa menjalin hubungan baik dengan media.

Image building sebuah lembaga merupakan hal mutlak yang harus selalu dilakukan. Memang untuk mencapainya (pembentukan citra positif) dibutuhkan kejelian strategi dari PR yang handal dalam ’menjinakkan’ media, dan juga sebuah cost yang tidak sedikit. Tetapi hasil yang bakal ditimbulkan sangat luar biasa besar manfaatnya bagi perusahaan jika dibandingkan hanya melalui pemasangan iklan semata.

Contoh paling mutakhir kedahsyatan hubungan media adalah perusahaan Microsoft. Padahal jika ditelisik lebih jauh, Bill Gates bersama Microsoft-nya sedikit sekali mengalokasikan anggaran perusahaan untuk pemasangan iklan di media massa. Tetapi satu yang membedakan Microsoft dengan perusahaan lainnya di dunia ini adalah mereka dengan cerdas mampu memanfaatkan jaringan media, dan terus menjaga hubungan baik.. Sederhana, tetapi dampaknya luar biasa positif bagi perkembangan perusahaan.
Strategi yang tidak pernah ditinggalkan tersebut berdampak pada seringnya Microsoft dan Bill Gates muncul di pemberitaan. Dengan semakin seringnya muncul mereka di koran dan ditayangkan televisi, serta internet, Microsoft pun jadi semakin dikenal masyarakat dan memiliki citra positif di benak masyarakat. Hingga Microsoft menjadi acuan pertama karena paling diingat masyarakat ketika mereka akan membeli produk yang ditawarkan.

Hubungan Media (Konsep dan Aplikasi) mencoba menyadarkan kita semua bahwa keberadaan media sangat penting bagi keberlanjutan sebuah institusi maupun perusahaan jika ingin memenangi kompetisi. Karena perusahaan besar di dunia bisa menjadi leader dibanding kompetitornya bukan lantaran berpromosi secara besar-besaran, melainkan dengan cara menjalinan kerjasama apik dengan media.

Jika pembaca adalah mahasiswa peminat kajian kehumasan, maupun orang yang kebetulan bergelut sebagai praktisi PR buku ini menjadi pegangan wajib yang harus dimiliki. Dari buku ini pembaca bisa memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan seputar jalinan hubungan dengan media.

(Sumber: Malang Post, 29 Oktober 2008)
Alamat Penerbit: PT Rajagrafindo Persada Jl. Pelepah Hijau IV TN 1 no. 14-15, Kelapa Gading Permai, Jakarta 14240Telp/fax: (021) 4520951 - 4529409

https://docs.google.com/document/d/1wqmjOSbkVQ5Y-iSk4y_FSf9IX7uWjSlAUHK6cqWFv6s/edit?usp=sharing
Readmore »»

Buku Pengantar Komunikasi Massa


Judul : Pengantar Komunikasi Massa

Penulis : Nurudin

Pengantar: Prof. Dr. Dedy N Hidayat

Penerbit : RajaGrafindo Persada, 2007

Tebal : 276 + xx hal





Kemajuan masyarakat, diakui atau tidak, karena peran media massa. Tetapi, ketika di masyarakat timbul kekacauan, kemerosotan moral, tindak kekerasan juga tidak bisa dilepaskan dari peran media massa pula. Intinya, media telah menjadi faktor penentu kehidupan manusia. Untuk sekedar mengilustrasikan fenomena tersebut jawablah pertanyaan berikut, berapa persen pikiran, ucapan dan perilaku kita diperngaruhi media massa? Jawabannya, tentu sangat fantastis.

Buku Pengantar Komunikasi Massa ini mengkaji secara teoritis bebagai proses yang melingkupi media massa. Dari bahasan ini diharapkan masyarakat tidak saja secara lebih cerdas mengarifi dan memahami keberadaan media massa ditengah masyarakat, tetapi juga mengkritisinya.

Buku ini akan mencapai sasarannya pada dosen dan mahasiswa Ilmu Komunikasi S-1 dan S-2, wartawan, praktisi komunikasi dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

Buku ini dilatarbelakangi oleh kebijakan kurikulum nasional yang mewajibkan mata kuliah Komunikasi Massa masuk dalam kurikulum program penyelenggaraan studi komunikasi.

Bahasan Buku Ini:
1. Definisi Komunikasi Massa, Ruang Lingkup, Ciri-Ciri Komunikasi Massa
2. Asal usul komunikasi massa
3. Fungsi-fungsi Komunikasi massa
4. Elemen-elemen komunikasi massa
5. Model-model komunikasi massa
6. Teori-teori komunikasi massa
7. Efek-efek komunikasi massa
8. Etika komunikasi massa


Alamat Penerbit:
PT Rajagrafindo Persada
Jl. Pelepah Hijau IV TN 1 no. 14-15, Kelapa Gading Permai, Jakarta 14240
Telp/fax: (021) 4520951 - 4529409
E-mail: rajapers@indo.net.id http://www.rajawalipers.co.id/

https://docs.google.com/document/d/1Nc7UJJAo7Xt0qHMGm1sc1iQptmwaWeaRXvJdURAGOzg/edit?usp=sharing


Readmore »»

Buku Sistem Komunikasi Indonesia


Judul : Sistem Komunikasi Indonesia
Penulis : Nurudin
Penerbit: RajaGrafindo Persada, 2004
Tebal : 214 + xii hal


Komunikasi adalah proses pengelihkan suatu ide dari sumber ke satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah perilaku. Definisi ini menekankan bahwa dalam komunikasi ada sebuah proses pengoperan (pemrosesan) ide, gagasan, lambang, dan dalam proses itu melibatkan orang lain.
Pekembangan sistem komunikasi dipengaruhi oleh sistem sosial di suatu negara. Di Indonesia sendiri, bentuk sistem komunikasi kekhasannya terwujud karena keragaman etnis, adat istiadat, perbedaan desa-kota, dan yang paling menentukan adalah sistem politik yang ditegakkan pada masyarakatnya.
Buku ini memberikan gambaran mengenai bentuk sistem komunikasi Indonesia dengan uraian-uraiannya mengenai sistem pers Indonesia, sistem komunikasi di pedesaan, peranan opinion leader (pemimpin opini) di Indonesia, dan fenomena ponsel dalam sistem komunikasi Indonesia.
Dilatarbelakangi oleh kebijakan kurikulum nasional yang mencantumkan mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia (SKI) yang berdiri sendiri, pemunculan buku ini dimaksudkan juga untuk mengisi kelangkaan literatur mengenai SKI.

https://docs.google.com/document/d/1bMrdofSJ619u9qnOEdHAW_1gWcBC5yo8gtD29iUlH1Q/edit?usp=sharing

Alamat:
PT Rajagrafindo Persada
Jl. Pelepah Hijau IV TN 1 no. 14-15, Kelapa Gading Permai, Jakarta 14240
Telp/fax: (021) 4520951 - 4529409
Readmore »»

Kamis, November 06, 2008

Memahami Makna dan Seluk Beluk Propaganda


Judul: Komunikasi Propaganda, Penulis: Nurudin, Penerbit: Remaja Rosdakarya Bandung, Cetakan Pertama, Juli 2001, Tebal: (viii + 155) halaman.


PROPAGANDA sebetulnya sering kita bicarakan, karena propaganda memang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Ia menjadi bagian dari alat atau teknik berkomunikasi dan dijadikan sebagai salah satu metode dalam komunikasi.

Sejalan dengan tingkat perkembangan teknologi komunikasi yang kian pesat, maka metode komunikasi pun mengalami perkembangan yang pesat pula. Namun semua itu, mempunyai aksentuasi sama yakni komunikator menyampaikan pesan, ide, dan gagasan, kepada pihak lain (komunikan). Hanya model yang digunakannya berbeda-beda.

Bila dirinci secara lebih konkret, metode komunikasi dalam dunia kontemporer saat ini yang merupakan pengembangan dari komunikasi verbal dan nonverbal meliputi banyak bidang, antara lain jurnalistik, hubungan masyarakat, periklanan, pameran/ eksposisi, propaganda, dan publikasi. Berdasarkan metode dalam komunikasi seperti tersebut tadi, semakin jelas kiranya, bahwa propaganda menjadi salah satu metode dalam komunikasi.

Tentunya, karena propaganda menjadi bagian dari kegiatan komunikasi, maka metode, media, karakteristik unsur komunikasi (komunikator, pesan, media, komunikan) dan pola yang digunakan, sama dengan model-model komunikasi lain. Oleh karena itu, unsur komunikasi secara umum juga berlaku bagi propaganda.
***
BAHASAN singkat di atas merupakan sekelumit dari buku tentang propaganda dan relevansinya dengan bidang komunikasi. Buku Komunikasi Propaganda ini berusaha menghadirkan konsepsi integral dan komprehensif mengenai propaganda, yang belakangan ini mengalami peyoratif (pemburukan) makna.

Oleh karena itu, buku ini mencoba menggali permasalahan dasar, sejarah, dampak, berbagai kasus propaganda di Indonesia dan sekaligus antisipasinya jika berdampak negatif, dengan counter propaganda. Itu artinya, kita tidak perlu apriori pada propaganda, demikian juga tetap harus waspada terhadap dampak buruk yang bisa ditimbulkan.

Pertama-tama buku ini membawa pembaca pada sebuah pemahaman bahwa propaganda itu bisa diibaratkan sebuh ilmu. Tentunya, ilmu itu akan membutuhkan hasil positif jika melekat pada orang yang mempunyai kepribadian baik. Namun, propaganda akan menghasilkan kejelekan dan menimbulkan kesengsaraan manakala melekat pada orang yang tidak baik.

Hal tersebut dapat dibuktikan oleh sejarah antara lain bagaimana Napoleon Bonaparte menggunakan propaganda politik untuk memenangkan perang. Serta tak terkecuali seorang Adolf Hitler yang menggunakan propaganda untuk memusuhi suatu ras dan memenangkan perang dengan meluaskan jurang pemisah antara negara lain sehingga terjadi perpecahan. Jadi propaganda akan berimplikasi baik atau buruk sangat tergantung pada komunikatornya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa sekarang ini propaganda mengalami peyoratif makna yang cukup signifikan, maka buku karya alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta ini menjelaskan bahwa yang membuat propaganda mengalami pemutarbalikan fakta, disalahgunakan untuk tidak hanya menyebut mengalami makna peyoratif, adalah disebabkan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, propaganda mengalami sisi negatif jika telah digunakan dalam bidang-bidang sekuler.

Kedua, propaganda akan mengalami makna negatif sangat tergantung pada peran pemimpin yang menggunakan propaganda tersebut.
Ketiga, propaganda berkait erat dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.
Keempat, propaganda dalam perkembangannya hanya digunakan oleh pihak-pihak tertentu yang tak bertanggung jawab dalam mengejar ambisinya.

Pada bab selanjutnya buku ini mengetengahkan bagaimana teknik melakukan propaganda. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam melancarkan propaganda. Efektif tidaknya dan pilihan mana yang digunakan, sangat bergantung pada kondisi komunikan, kemampuan komunikator (propagandis), lingkungan sosial politik dan budaya masyarakatnya.

Dalam buku itu disebutkan, beberapa teknik propaganda dan uraiannya. Sedangkan media yang dapat digunakan dalam kegiatan propaganda, disebutkan: media massa, buku, film, dan selebaran.

***
PENULIS buku itu kemudian membawa pembaca pada paradigma secara utuh, dan diberi uraian tentang implementasi propaganda politik pada masa tiga Presiden Indonesia yang pernah menjabat yaitu Soeharto, BJ Habibie, dan Abdurrahman Wahid.
Di era Soeharto atau yang lebih dikenal masa Orde Baru, propaganda politik yang pernah dilakukan antara lain; (1) propaganda menampilkan citra baik kepribadian pemimpin, (2) propaganda pembangunan ekonomi, (3) propaganda dengan organisasi berbasis militer, (4) propaganda sakralisasi Pancasila dan UUD 1945, (5) propaganda penertiban politik dan asas tunggal, dan (6) propaganda dengan politisasi agama.
Pada era BJ Habibie propaganda yang sering diserukannya adalah tentang demokratisasi. Selain itu juga propaganda moral altruisme bangsa dan propaganda pseudo demokrasi.

Untuk era Abdulrrahman Wahid (Gus Dur) yang selama memimpin bangsa ini sangat dipenuhi pro-kontra di masyarakat, dinamika propaganda Gus Dur yang khas dan layak disimak dalam buku ini adalah propaganda menggunakan language politic, mempropagandakan fiqh politik, propaganda "kesejahteraan dan demokrasi sama-sama penting", propaganda Ketetapan (Tap) MPRS No XXV/MPRS/1966, propaganda negara tanpa "tentara", propaganda politik memaafkan, dan terakhir propaganda demokrasi dengan teologi inklusivisme.

Jika propaganda berdampak negatif dan kita tak ingin propaganda seperti itu berkembang di masyarakat, maka tentu saja harus dilawan. Usaha melawan propaganda inilah yang dinamakan counter propaganda. Khusus pembahasan masalah counter propaganda dapat disimak pada bab akhir dari buku karya Nurudin ini.
Dalam counter propaganda, propagandis memberikan kebenaran ide dan gagasan yang sudah melenceng, memberikan fakta-fakta empirik beserta dampak positif yang dimungkinkan terjadi. Counter propaganda harus dilakukan terus-menerus agar tertanam kuat di benak komunikan. Atau kalau sudah tertanam kuat keburukan, propaganda bisa sedikit banyak mempengaruhi pola pikirnya.

Jika komunikan jadi bimbang mempertimbangkan kembali keyakinannya-setelah sebelumnya mempercayai dan berperilaku jelek mengikuti propaganda terdahulu-itu artinya counter propaganda bisa dikatakan setengah berhasil (hlm 125).
Kayaknya Nurudin ingin membuat pembaca lebih memahami apa yang diuraikannya, maka pada bagian ini pula ia memberikan beberapa contoh kasus counter propaganda. Kenapa hal ini dilakukan? Sebab, berbagai kasus itu menolak atau menunjukkan tentang ketimpangan propaganda yang dilakukan pihak lain (pemerintah) dan memberikan esensi dasar obyektivitasnya.

Ini bukan berarti kasus itu seratus persen benar. Hanya ada beberapa indikasi mengembalikan sesuatu pada posisi semula yang tak lain dan bukan mempunyai esensi counter propaganda.

Secara keseluruhan buku ini bisa dijadikan pegangan untuk memfungsikan propaganda secara lebih baik, beretika, sebagai propagandis yang bermoral.

***
DENGAN membahami makna dan seluk beluk propaganda, kita akan mudah mengerti atau menangkap sesuatu yang ditawarkan oleh siapa pun. Misal membaca iklan, mendengarkan promosi barang jualan atau gagasan, dan sebagainya. Pendeknya, kalau kita menguasai masalah propaganda, tak akan mudah tergiur atau terperosok ke hal-hal yang tidak kita inginkan.

Itulah barangkali sumbangan Nurudin dengan menulis buku tersebut.

(Ardiansyah,mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta )
(Sumber: Kompas, 26 Oktober 2001).

https://docs.google.com/document/d/1lSZylx3KWy9biDufcGD0I31h71i9YL-G3DMb2LphPQo/edit?usp=sharing
Readmore »»

Buku Pers dalam Lipatan Kekuasaan


Judul : Pers dalam Lipatan Kekuasaan, Tragedi Pers Tiga Zaman

Penulis : Nurudin

Penerbit: UMM Press

Tebal : 134 + x hal.


Adakah kebebasan pers di dunia ini? Pertanyaan itu bisa dipersempit lagi sebagai berikut; apakah ada kebeba­san pers di Indonesia? Kalau ada, kebebasan apa yang sebenarnya diharapkan? Ini penting untuk dijawab, sebab berbagai komentar, kritikan dan hujatan pada pers biasan­ya bermuara pada masalah kebebasan pers.

Namun, setelah sekian lama dicari format kebebasan pers, kita baru sadar sangat sulit memaknai "kebebasan" tersebut. Apakah pasca Orde Baru (Orba) serta merta dikatakan pers bebas? Ini juga pertanyaan yang tak kalah sulitnya untuk dijawab.
Kenapa? Jika pasca Orba dikatakan ada kebebasan pers, kenyataannya juga masih banyak persoalan dan dampak yang ditimbulkan. Sebab, kebebasan pers tidak akan pernah lepas dari konteks sosial politiknya.

Bagi kalangan pers, kebe­basan menyiarkan informasi tanpa ada sensor bisa jadi itu wujud kebebasan pers. Namun, masyarakat tentu juga punya ukuran yang berbeda yang berpengaruh langsung terhadap pers. Apalagi, pers sudah mengklaim diri sebagai lembaga sosial atau lembaga kemasyarakatan. Di sini faktor masyarakat memegang peranan yang tidak bisa dikecilkan keberadaannya. Untuk itu, pertanyaannya bukan lagi apakah kebebasan pers sudah bisa diwujudkan di Indonesia atau tidak. Teta­pi, bagaimana gerak dinamika kebebasan pers dan faktor penghambat yang menyertainya. Ini pertanyaan yang justru lebih bisa menjawab banyak aspek sehubungan dengan kebeba­san pers, dari pada pertanyaan yang bermuara pada jawaban ya atau tidak.

Oleh karena itu kebebasan pers bisa dianalogikan dalam permainan catur. Para pemain catur bebas menggerak­kan anak buah catur dalam memenangkan suatu kompetisi secara bebas. Masing-masing pihak punya cara dan teknik tersendiri. Mereka bebas berbuat apa saja. Namun, sebebas-bebasnya sebuah permainan catur, toh para pemain itu harus mematuhi aturan-aturan permainan dalam dunia catur. Tentu­nya, buah catur kuda hanya bisa digerakkan dengan memben­tuk huruf "L". Begitu juga dengan spion harus dijalankan ke depan dan tak boleh dijalankan mundur.
Kebebasan pers ibarat sebuah permainan catur. Para pengelola media bebas berbuat apa saja untuk mencapai tujuan (meraih keuntungan, mendidik, menghibur, memberi informasi kepada masyarakat). Namun toh semua itu akan terbatas pada "aturan main" yang melingkupi pers tersebut.
Dalam posisi ini pers sebagai lembaga kemasyarakatan menjadi lingkup yang memberi pengaruh pada ruang gerak pers. Dan pers sebagai lembaga kemasyarakatan tersebut juga tak lepas dari fungsi-fungsi antara lain memberi pedoman, menjaga keutuhan masyarakat dan mengadakan sistem pengendalian sosial (social control).
Oleh karena itu, pers yang bebas pun tetap harus memainkan fungsi-fungsi tersebut di atas. Sedangkan fungsi-fungsi tersebut dimanifestasikan dalam kesepakatan masyarakat yang sering disebut sebagai norma hukum.
Dengan demikian, pers bisa mewujudkan kebebasannya, namun masih dalam kerangka penegakan hukum. Artinya, setiap berbagai prinsip kebebasan yang diwujudkan berada dalam rambu hukum. Jika pers bersalah harus diproses didepan hukum.
Fakta inilah yang sebenarnya tidak pernah diwujudkan di era Orba. Semua keputusan yang menyangkut pers akan diselesaikan secara politis. Bahkan penyelesaian politis tersebut dilegitimasi oleh suatu aturan yang bertentangan dengan jati diri kebebasan, salah satunya adalah peratu­ran tentang SIUPP (Permenpen no. 01/Per/Menpen/1984). Bahkan kebebasan pers direduksi sedemikian rupa dengan kata tanggung jawab. Sebab dalam realitasnya, aktualisasi tanggung jawab tersebut dimonopoli oleh pemerintahnya.
Yang menjadi persoalan kita kemudian adalah siapa yang berhak menentukan "aturan main catur" tersebut? Masyarakat atau pemerintah? Secara ideal tentu adalah masyarakat. Hanya masalahnya adalah ketika masyarakat berada dalam suasana eforia yang terjadi kemudian adalah tercapainya titik kulminasi emosi tertinggi. Sehingga, munculnya sikap mau menang sendiri dan bahkan "main hakim" sendiri. Ini ditunjukkan pada era Gus Dur-Mega setelah sebelumnya pada era Habibie perslah yang memasuki suasana eforia. Ini mengakibatkan pers cenderung liberal.
Jika kemudian "aturan main catur" tersebut dipegang pemerintah dikhawatirkan kebebasan pers akan terancam. Ini bisa ditunjukkan pada era Orba. Napoleon Bonaparte sendiri sangat takut pada pers dengan mengatakan, "Apabila pers itu dibiarkan saja maka saya tidak akan tahan memer­intah lebih dari 3 bulan". Ini menjadi dasar legitimasi pemerintah untuk selalu mengawasi pers.
Terlepas dari itu, persoalan yang dikemukakan di atas membuktikan bahwa pers Indonesia selama ini berada dalam lipatan kekuasaan. Lipatan kekuasaan tersebut ibarat sebuah "aturan main catur" yang menyebabkan pers kehi­langan kebebasan atau bahkan kehilangan kontrol diri. Kekuasaan itu sendiri tidak hanya dipegang oleh pemerin­tah, namun juga oleh masyarakat sendiri. Pers di Era Gus Dur membuktikan bahwa kekuasaan dipegang oleh masyarakat. Dengan kata lain, kekuasaan yang dipegang masyarakat untuk mengendalikan pers di lua aturan hukum yang berlaku juga cermin bahwa pers berada dalam lipatan atau cengkeraman kekuasaan.
Maka ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Jika kekuasaan dipegang pemerintah, maka pers selalu akan terancam kebebasannya. Ini disebabkan pemerintah jelas mempunyai kepentingan langsung pada pers, terutama sekali untuk mengamankan kebijakannya. Namun jika kekuasaan dipegang masyarakat, pers juga bisa jadi kehilangan kebe­basannya, tetapi kekebasan di sini akan membuahkan sikap hati-hati, introspeksi, melaksanakan self censhorship (sensor diri) dan check and recheck terhadap pemberitaan yang disiarkan, bahwa apa yang dilakukan pers tidak dikehendaki masyarakat. Sama-sama mempunyai implikasi, pilihan kedua lebih mendekati kriteria ideal kebebasan pers. Masalahnya, akan lebih ideal lagi jika kebebasan tersebut berada dan dimainkan dibawah aturan hukum yang berlaku.
Dengan kata lain pula, pers tetap berada dalam lipatan kekuasaan terlepas dari siapa, apa, di mana, kapan kekua­saan itu melekat. Kebebasan memang rumit, pelik dan penuh tanggungjawab. Justru di sinilah arti penting kebebasan pers yang tidak mempunyai kriteria atau ukuran tertentu. Karena kebebasan pers (sama halnya dengan demokrasi)
adalah suatu cita-cita ideal yang akan terus menerus diperjuangkan, bahkan tidak akan pernah selesai. Maka ukuran atau kriteria kebebasan pers berbeda pada kurun waktu tertentu dengan kondisi masyarakat tertentu pula. Ibarat sebuah sisi mata uang, lipatan kekuasaan akan terus mengiringinya; digesekkan, direduksi dimonopoli, diperba­harui atau ditingkatkan sejalan dengan tingkat perkemban­gan masyarakat.
Buku ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama adalah berupa latar belakang esensi dasar kenapa kita perlu membandingkan pers tiga zaman (Era Soeharto, Era Habibie dan Era Abdurrahman Wahid). Bagian kedua berisi kontroversi pemunculan SIUPP sebagai sebuah "drama ter­baik" kebebasan pers di era Orba, puncak terjadinya "pembantaian" pers dengan senjata SIUPP dan analisis seputar pembatalan SIUPP hubunganya dengan politik dan kebebasan pers. Bagian ketiga berisi era pasca SIUPP
yang dikaji dari Era Habibie dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mempunyai nuansa tersendiri dalam hal kebebasan pers. Sedangkan bagian keempat adalah berisi kesimpulan sekaligus dipetakan bagaimana pola interaksi pers, pemer­intah dan masyarakat pada masing-masing era tersebut dalam menyikapi kebebasan pers.
Readmore »»

Buku Menulis Artikel itu Gampang


Judul : Menulis Artikel itu Gampang

Penulis : Nurudin

Penerbit : Effhar, Semarang


Menulis sebenarnya adalah pekerjaan yang mudah dilakukan oleh siapa saja. Sejak mulai masuk kelas 1 SD bahkan mungkin sejak TK, semua orang sudah mulai belajar menulis. Ketika duduk di bangku sekolah maupun di bangku kuliah, hampir tidak pernah untuk tidak menulis. Sehingga, sebenarnya setiap orang telah memiliki dasar dan bekal untuk menulis.Tetapi anehnya, begitu seseorang disuruh menulis, betapa sulitnya menulis itu.

Banyak orang yang stres dan putus asa ketika telah duduk berjam-jam namun kertas masih tetap kosong tanpa tulisan yang dihasilkan.Apa sebenarnya yang menyebabkan menulis itu menjadi pekerjaan yang sulit? Nurudin, dalam bukunya Menulis Artikel itu Gampang, mencoba mengurai sebab-sebab yang menghambat seseorang dalam menulis. Nurudin memulainya dengan filsafat menulis. Menulis adalah merumuskan kembali berbagai masalah yang pernah dialami dan dibaca pada waktu lalu, direkonstruksi ulang dan dikompilasikan untuk diolah menjadi sebuah tulisan. (Hal. 1)

Jadi, jika seseorang memiliki pengalaman baik yang dialami sendiri maupun dari orang lain atau memalui buku yang pernah dibaca, maka sebenarnya dia telah memiliki bahan untuk ditulis. Maka tidak heran jika sering dijumpai ide tulisan yang sama tetapi ditulis oleh orang yang berbeda. Namun, karena setiap penulis memilik resep dan bumbu yang berbeda, maka tulisannya tetap menarik untuk dibaca.Untuk menjadi seorang penulis, seorang harus memiliki alasan yang kuat mengapa menulis?.

Alasan kuat yang melandasi mengapa menulis disebut motivasi. Nurudin mencontohkan ada 4 alasan mengapa seseorang menulis. Pertama, mendapatkan Penghasilan, kedua, mencari popularitas, ketiga,tanggung jawab sosial, dan keempat, syukur. Setiap orang tentu memiliki motivasi yang berbeda-beda. Ada yang menulis karena motivasi untuk mendapatkan penghasilan, ada yang karena ingin memperoleh popularitas atau ada juga yang mungkin kedua-duanya bahkan keempat-empatnya. Tidak menjadi soal, yang penting harus ada alasan kuat yang melatarbelakangi, mengapa ia menulis. Bukan hanya menulis, pekerjaan lain pun jika tanpa motivasi, akan terasa berat dan sulit.

Jika motivasi telah dimiliki, langkah selanjutnya adalah memulai menulis. Semua pekerjaan, yang paling berat dirasakan adalah langkah pertama. Maka benar adanya pepatah yang mengatakan bahwa langkah pertama adalah separuh dari pekerjaan. Untuk itu, segeralah mulai menulis dan jangan tunda-tunda lagi. Namun, penulis pemula sering mengalami hambatan untuk memulai menulis. Penulis pemula tidak perlu merisaukan apakah harus menulis spesialis atau tidak. Tulis apa saja, semua layak ditulis. Spesialisasi akan terbentuk dengan sendirinya ketika kita sudah terbiasa menulis (Hal 36).

Jika kita sudah mulai menulis, bukan berarti jalan akan menjadi lempang. Berbagai hambatan akan siap menghadang. Hambatan itu umunya ada dua macam, yaitu yang berasal dari dalam diri maupun dari luar.Menulis sama seperti menggunakan komputer. Jika lama berhenti dan tidak digunakan maka akan lupa. Demikian juga dengan menulis. Jika seorang penulis berhenti dalam kurun waktu lama, maka ketrampilan dan motivasi yang telah dimiliki akan hilang. Untuk itu, tidak ada jalan lain bagi seorang penulis kecuali harus tetap terus menulis dalam kondisi bagaimana pun dan juga di mana pun.

Jangan biarkan kesempatan lewat begitu saja tanpa aktifitas menulis. Meskipun tulisan tersebut hanya berupa outline atau coretan singkat dalam buku harian. (Hal 82)Melakukan diskusi sesama penulis juga akan menjaga kontinuitas dalam menulis. Dengan diskusi sesama penulis, motivasi menulis akan tetap terjaga.Jika sudah lancar menulis, tentu Anda ingin mengirimkan hasil karya Anda. Sebelum Anda mengirim tulisan ke media masa, alangkah baiknya Anda mengenal media massa. Anda harus mengetahui misi dan visi sebuah media massa. Sikap redaktur secara umum bisa dikeetahui lewat tajuknya. Sebab tajuk adalah tak lain sikap redaksi terhadap suatu kejadian. Dan ini akan disesuaikan dengan ide awal yang dimunculkannya surat kabar tersebut.Dengan mengetahui misi dan visi suatu media massa, Anda tidak akan salah mengirimkan tulisan.

Karena sebaik apapun tulisan yang Anda kirimkan, jika tidak sesuai dengan misi dan visi media masa tersebut, maka tulisan Anda tidak akan pernah dimuat. Media massa seperti halnya toko. Jika Anda mau menitipkan dagangan berupa pisang goreng di toko elektronik, maka Anda pasti akan ditolak.Buku mungil setebal 122 halaman ini menghidangkan beberapa tips yang bisa dicoba bagi para penulis pemula. Cobalah tips-tips yang telah dijabarkan di buku bersampul hijau tua ini. Setelah itu, Anda akan merasakan bahwa ternyata menulis artikel itu gampang.

Sumber: http://badiyo.multiply.com)
Readmore »»

Twitter

Followers

Statistik

Adakah nama Anda di sini?


 

Google Analytics