Kamis, April 19, 2018

Pilkada dan Negeri Para Komedian

Oleh Nurudin
(Lampung Post, 9 Januari 2018)

Tahun 2018, Indonesia punya perhelatan besar yakni Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Pilkada itu akan melibatkan 17 pemilihan Gubernur, 115 Bupati, dan 39 Walikota. Meski sebuah rutinitas, Pilkada kali ini tetap menarik tidak saja pertama kali serentak dilakukan tetapi karena setiap era pemilihan mempunyai keunikan sendiri-sendiri.
Berbagai cara pun telah dan akan dilakukan kandidat agar dipilih masyarakat luas. Namun demikian, semua kandidat cenderung berorientasi pada cara bagaimana mereka dikenal, bukan pada apakah yang dilakukannya benar sesuatu aturan, etis atau tidak. Jika cara-cara pengenalan kandidat itu tidak ada aturan, saya yakin pelanggaran demi pelanggaran akan kian tumbuh subur. Ada aturan saja dilanggar apalagi jika tidak ada aturan?

Artikel ini tidak akan masuk dalam wilayah apakah yang dilakukan para kandidat itu melanggar aturan atau tidak, karena itu masuk wilayah hukum. Tulisan ini akan menyoroti proses komunikasi politik yang dilakukan para kandidat, baik melalui baliho, spanduk, iklan, pernyataan atau media komunikasi lain yang digunakan untuk mengenalkan mereka. Ini sangat penting dianalisis agar masyarakat tidak terbuai dengan sesuatu yang tampak, apalagi memang Pilkada itu sarat kepentingan.

Readmore »»

Donald Trump dan Komodifikasi Pesan Politik

Oleh  Nurudin
(Bontang Post, 21/12/2017)

Pernyataan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel menyentak dunia. Tidak saja karena konflik Palestina-Israel yang terus berkepanjangan, tetapi usaha untuk mendamaikan kedua negara itu dan kawasan Timur Tengah akan semakin sulit. Bagaimana pun juga Trump sudah mengeluarkan pernyataan, sementara masyarakat dunia dibuat sibuk dari buntut pernyataanya itu.
Sebagai seorang presiden, pernyataan tersebut tentu bukan sesuatu yang dikatakan spontan. Trump tentu sudah berhitung bahwa pernyataannya akan menimbulkan kontroversi. Sebagai sebuah negara yang merasa menjadi polisi dunia, ia seolah merasa bisa berbuat apa saja.

Tulisan ini tidak akan membahas apa dampak dari pernyataan presiden dari partai Republik itu, tetapi akan mengamati dari sisi pesan komunikasi politik. Tidak bisa dipungkiri, apa yang diucapkan itu bentuk lain dari komodifikasi pesan komunikasi dalam usaha meraih kekuasaan  politiknya.

Readmore »»

Donald Trump Sang Propagandis

Oleh Nurudin
(Harian Bhirawa, 18-12-2017)
Pernyataan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel terus berbuntut panjang. Sebenarnya, ide menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel sudah ada sejak 1995, saat Kongres AS menyetujui regulasi pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.  
Beberapa presiden yang berkuasa sejak tahun 1995 menunda pemindahan ibukota,  tetapi secara terang-terangan mendukung tindakan militer Israel. Baru pada tahun 2017, ide pemindahan itu terwujud melalui presiden Donalp Trump.  Trump dengan segala kontroversinya mengeluarkan pernyataan yang jelas akan memancing konflik dan perseteruan di Timur Tengah umumnya dan dunia pada umumnya.

Banyak orang menyayangkan, tetapi lisan Trump sudah berbicara mengenai kebijakan luar negeri negaranya. Israel pun semakin brutal merebut tanah Palestina. Orang boleh mencaci, namun Trump adalah orang yang sedang melakukan propaganda untuk tujuan politik dan kepemimpinan Amerika di dunia. Desakan lobi Yahudi di Amerika juga tak lepas dari hal itu.
Readmore »»

Senin, Januari 29, 2018

Kampanye Hitam dan Cerita Orang-Orang Kalah

Oleh Nurudin
(Koran Sindo, 13 Januari 2018)

Presiden Joko Widodo pernah berharap  agar bangsa ini mengedepankan karakter keindonesiaan dalam berpolitik. Karakter keindonesiaan itu satu diantaranya adalah tidak saling menjelekkan dan tak saling mencela. Dalam berpolitik, seharusnya beradu track record, program, ide dan rencana-rencana cerdas ke depan.

Kegalauan presiden itu tentu saja mewakili masyarakat yang peduli untuk kemajuan Indonesia yang lebih baik di masa datang. Bisa jadi pula, kegelisahan presiden juga mencemaskan masyarakat dan bangsa ini menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Readmore »»

Pilkada Jatim Tanpa Isu SARA

Oleh Nurudin
(Harian Bhirawa, 9 Januari 2018)

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang akan  melibatkan 17 pemilihan Gubernur, 115 Bupati, dan 39 Walikota tahun 2018 ini sangat menyedot perhatian  masyarakat. Beberapa alasannya antara lain; pertama, Pilkada menjadi salah satu tolok ukur dan indikator untuk menyambut Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019. Tak heran, jika Parpol yang berkepentingan pada tahun 2019 sangat ambisius untuk memenangkan persaingan.
Kedua, Pilkada tahun ini masih diwarnai sisa-sisa peseteruan Pilpres 2014 yang membuat bangsa ini terbelah menjadi 2 bagian, antara pendukung dan penolak presiden terpilih (2014). Polarisasi 2 kelompok masyarakat itu terus riuh sampai sekarang. Bahkan bisa dikatakan, Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 menjadi titik kulminasi perseteruan dua kubu itu. Maka, berbagai upaya dilakukan masing-masing pihak untuk ikut memenangkan persaingan.
Readmore »»

Twitter

Followers

Statistik

Adakah nama Anda di sini?


 

Google Analytics