Jumat, Oktober 27, 2017

Selamat Datang, Masyarakat Era Tahun 1930-an




Belakangan ini, saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di masyarakat. Betapa masyarakat kita sangat riuh dengan hal yang sifatnya remeh-temeh dan tak subtansial berkaitan dengan isu di sekitar kita. Lihat saja isu soal pribumi, sebelumnya ada istilah populer ndeso, PKI, bani serbet, bumi datar, dan istilah-istilah lain yang cenderung sarkastis.

Kemudian, saya membuka buku karangan saya berjudul Pengantar Komunikasi Massa.  Saat membuka teori komunikasi massa, saya sempatkan membaca bagian yang membahas teori peluru (bullet theory) atau juga dikenal dengan teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory). Setelah itu saya simpulkan bahwa keadaan masyarakat sekarang sama persis dengan yang terjadi pada tahun 30-an sampai 40-an saat Perang Dunia (PD). 




Type rest of the post here


Tidak Terdidik
Teori di atas mengungkapkan bahwa kondisi masyarakat pada waktu itu sangat tidak terdidik. Sementara itu, media massa (cetak dan elektronik) mempunyai kekuatan penuh dalam menyebarkan pesan-pesannya. Pesan media massa itu langsung menghujam ke dalam benak masyarakat disebabkan dua asumsi; (1) masyarakat tidak terdidik, dan (2) masyarakat tidak berkomunikasi dengan sesamanya. Akibat dua hal di atas, pesan media massa dianggap sebagai berita hebat, lalu masyarakatnya menelannya mentah-mentah.
Kondisi yang terjadi pada media massa dan masyarakat yang mudah menelan mentah-mentah informasi itu lalu digunakan untuk kepentingan penguasa. Adolf Hitler, ketua Partai Nazi Jerman menggunakannya untuk kegiatan propaganda  dalam usaha memenangkan perang. Salah satu propaganda yang dikemukakannya adalah bahwa Jerman adalah keturunan Aria sebagai bangsa mulia. Maka, bangsa-bangsa lain harus dienyahkan, terutama Yahudi. Gembar-gembor untuk memenangkan perang itu terus dilakukan dengan memobilisasi kekuatan masyarakat dalam melawan musuh Jerman. Bahkan informasi yang disebarkan di media massa sebenarnya tidak sedahsyat kenyataannya.
Di sisi lain, Amerika dan sekutunya berusaha keras melawan propaganda Jerman di bawah Hitler itu. Amerika melakukan counter propaganda dengan perlawanan di segala bidang. Ini harus dilakukan karena propaganda Hitler sedemikian kuatnya memengaruhi benak masyarakat dan membuat takut masyarakat dunia.
Dengan alasan kemanusiaan, para ilmuwan Amerika mencoba untuk melawan propaganda itu. Maka lahirlah, sebuah teori yang mengatakan bahwa peran media massa itu tidaklah besar sebagaimana yang diasumsikan dalam teori peluru. Artinya, pesan-pesan media massa juga tidak langsung diterima masyarakat. Masyarakatbisa menerima pesan-pesan media massa melalui pemimpin opini (opinion leader). Jadi, asumsi bahwa media massa punya kekuatan penuh itu dianggap mengada-ada. Ini versi Amerika tentunya. Sebagai sebuah ilmu yang muncul untuk melakukan perlawanan, tentu teori baru produk Amerika itu sangat manjur, lepas lepas dari kekalahan Hilter pada PD.

Masa Kini dari Masa Silam
Bagaimana dengan kondisi masyarakat sekarang? Masyarakat sekarang hampir sama persis dengan zaman Hilter tersebut. Mereka  cenderung menuruti apa yang terjadi dan disampaikan oleh media massa, terutama media sosial. Artinya, kalau zaman dahulu media massa yang berperan penting memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat, zaman sekarang adalah media sosial.
Soal kata pribumi misalnya yang baru-baru saja hangat menjadi perbincangana masyarakat. Sebenarnya, kata pribumi itu bisa jadi hal yang biasa diucapkan oleh seseorang. Namun demikian, hiruk-pikuk dampak dari kata itu sedemikian dahsyat. Menjadi dahsyat karena yang kemudian menyebarkan informasi itu didasari oleh perasaan suka dan tidak suka pada pengucap kata tersebut. Bahkan, kata pribumi semakin terpolarisasi pada dua kubu yang selama ini masih terus bersitegang. Tak terkecuali dengan istilah PKI. Kata PKI menjadi komoditas politik yang menjadi riuh di media sosial dan ini sangat memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Yang pasti polarisasi dua kubu masyarakat terus berkepanjangan.
Sebagaimana tahun 30-an sampai 40-an, masyarakat kita jarang, untuk tak mengatakan tidak mau, mengkaji lebih dalam sebab musabab atau mencari fakta dari sumber aslinya. Mereka lebih cenderung menyukai informasi yang hanya bersumber dari kelompoknya saja. Bahkan otak kita sering kali kalah cerdas dengan kecepatan jempol. Artinya, sering kita tidak membaca keseluruhan informasi tetapi langsung menyebarkannya ke orang lain, hanya gara-gara informasi itu sesuai dengan kecenderungan dirinya. Jadi, masyarakat menyebar berita tidak lagi berdasarkan apakah berita itu benar atau tidak tetepi lebih karena sesuai dengan sikap dan perilaku politiknya. Bahkan ini juga dilakukan oleh mereka-mereka yang berpendidikan tinggi.
Kondisi seperti inilah yang kemudian rentan untuk digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang punya kepentingan politik. Sebenarnya masyarakat kita tidak tahu apa-apa. Mereka hanya digiring untuk membuat hiruk pikuk saja. Yang beruntung tentu saja para pemain politik. Polarisasi dua kubu dalam politik akan terus mengemuka sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
Apakah dengan demikian, masyarakat sekarang dikatakan tidak terdidik? Nanti dulu. Masyarakat kita sudah semakin terdidik, jika dibandingkan puluhan tahun yang lalu. Namun demikian, kondisi masyarakat kita masih sama; yakni masih senang mengonsumsi berita-berita yang sebenarnya tidak substansial. Tidak bisa dipungkiri, kita masih hidup dalam masyarakat yang mementingkan sesuatu yang artifisial (terlihat).
Coba Anda amati di media sosial, berapa banyak dari pengguna itu yang bergelar pendidikan tinggi? Amati sekali lagi, bagaimana mereka menulis status, menyebarkan link yang hanya sesuai kecenderungan dirinya? Memang tidak salah. Masalahnya, apakah mereka yakin perilakunya tidak dijadikan contoh pengguna lain? Misalnya, seorang dosen menyebar berita bohong. Mahasiswanya  tentu saja berkemungkinan besar akan mengklaim berita itu benar dan ikut menyebarkannya. Sangat berbahaya bukan?

Bukankah dalam hal itu, media sosial mempunyai kekuatan penuh (sebagaimana media massa tahun 30-an) dan sangat memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat? Sementara itu, masyarakat menelan mentah-mentah apa saja informasi yang berasal dari media sosial hanya karena sesuai kecenderungan diri bukan pada kebenaran fakta? Selamat datang masyarakat era tahun 30-an. Meminjam istilah anak muda, “wajah baru, stock lama”. Wajahnya berubah, tetapi perilakunya tidak berbeda dengan era sebelumnya.

Artikel ini pernah dimuat harian Solo Pos, 27 Oktober 2017 dengan judul, "Masyarakat Era Tahun 1930-an"

Comments :

2 comments to “Selamat Datang, Masyarakat Era Tahun 1930-an”

Menarik sekali pembahasannya mengenai teori jarum hipodermik yang kemudian dikaitkan dengan kondisi masyarakat saat ini. Namun, saya rasa tidak semua masyarakat melakukan hal itu. Saya rasa teori uses and gratification juga masih berlaku, karena teman-teman mahasiswa saya juga jarang sekali heboh mengenai pemberitaan katakanlah pribumi tadi. Tetangga-tetangga di sekitar saya pun begitu. Mereka lebih condong menganggap pemberitaan tersebut tidak penting dan lebih suka membaca berita-berita ringan seperti apa yang terjadi pada artis kesayangan mereka, atau lifestyle atau bahkan berita-berita olahraga. Jadi ketika pemberitaan mengenai pribumi ini diangkat ke permukaan mereka mungkin tahu tapi tidak secara mendetail karena mereka pikir itu tidak penting dibandingkan katakanlah kondisi kesehatan Selena Gomez terkini. Sayangnya, fenomena ini juga berarti adalah mahasiswa disekitar saya daya kritisnya berkurang tajam karena hal-hal yang justru menarik minat mereka adalah hal-hal yang mungkin sangat tidak penting ������

Unknown mengatakan...
on 

itu teori yang muncul tahun 30-an. tentu untuk saat sekarang tidak bisa digerelaisasi sembarangan. tentu ada banyak perbedaan. namun, beberapa kasus menunjukkan persamaan, tentu saja dengan perubahan zamannya.
soal pribumi, mungkin bagi sebagian orang penting, sebagian lain tidak. ini kan hanya soal perbedaan sudut pandang saja. thanks

NURUDIN mengatakan...
on