Tampilkan postingan dengan label artikel komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel komunikasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 19, 2018

Pilkada dan Negeri Para Komedian

Oleh Nurudin
(Lampung Post, 9 Januari 2018)

Tahun 2018, Indonesia punya perhelatan besar yakni Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Pilkada itu akan melibatkan 17 pemilihan Gubernur, 115 Bupati, dan 39 Walikota. Meski sebuah rutinitas, Pilkada kali ini tetap menarik tidak saja pertama kali serentak dilakukan tetapi karena setiap era pemilihan mempunyai keunikan sendiri-sendiri.
Berbagai cara pun telah dan akan dilakukan kandidat agar dipilih masyarakat luas. Namun demikian, semua kandidat cenderung berorientasi pada cara bagaimana mereka dikenal, bukan pada apakah yang dilakukannya benar sesuatu aturan, etis atau tidak. Jika cara-cara pengenalan kandidat itu tidak ada aturan, saya yakin pelanggaran demi pelanggaran akan kian tumbuh subur. Ada aturan saja dilanggar apalagi jika tidak ada aturan?

Artikel ini tidak akan masuk dalam wilayah apakah yang dilakukan para kandidat itu melanggar aturan atau tidak, karena itu masuk wilayah hukum. Tulisan ini akan menyoroti proses komunikasi politik yang dilakukan para kandidat, baik melalui baliho, spanduk, iklan, pernyataan atau media komunikasi lain yang digunakan untuk mengenalkan mereka. Ini sangat penting dianalisis agar masyarakat tidak terbuai dengan sesuatu yang tampak, apalagi memang Pilkada itu sarat kepentingan.

Readmore »»

Donald Trump dan Komodifikasi Pesan Politik

Oleh  Nurudin
(Bontang Post, 21/12/2017)

Pernyataan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel menyentak dunia. Tidak saja karena konflik Palestina-Israel yang terus berkepanjangan, tetapi usaha untuk mendamaikan kedua negara itu dan kawasan Timur Tengah akan semakin sulit. Bagaimana pun juga Trump sudah mengeluarkan pernyataan, sementara masyarakat dunia dibuat sibuk dari buntut pernyataanya itu.
Sebagai seorang presiden, pernyataan tersebut tentu bukan sesuatu yang dikatakan spontan. Trump tentu sudah berhitung bahwa pernyataannya akan menimbulkan kontroversi. Sebagai sebuah negara yang merasa menjadi polisi dunia, ia seolah merasa bisa berbuat apa saja.

Tulisan ini tidak akan membahas apa dampak dari pernyataan presiden dari partai Republik itu, tetapi akan mengamati dari sisi pesan komunikasi politik. Tidak bisa dipungkiri, apa yang diucapkan itu bentuk lain dari komodifikasi pesan komunikasi dalam usaha meraih kekuasaan  politiknya.

Readmore »»

Donald Trump Sang Propagandis

Oleh Nurudin
(Harian Bhirawa, 18-12-2017)
Pernyataan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel terus berbuntut panjang. Sebenarnya, ide menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel sudah ada sejak 1995, saat Kongres AS menyetujui regulasi pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.  
Beberapa presiden yang berkuasa sejak tahun 1995 menunda pemindahan ibukota,  tetapi secara terang-terangan mendukung tindakan militer Israel. Baru pada tahun 2017, ide pemindahan itu terwujud melalui presiden Donalp Trump.  Trump dengan segala kontroversinya mengeluarkan pernyataan yang jelas akan memancing konflik dan perseteruan di Timur Tengah umumnya dan dunia pada umumnya.

Banyak orang menyayangkan, tetapi lisan Trump sudah berbicara mengenai kebijakan luar negeri negaranya. Israel pun semakin brutal merebut tanah Palestina. Orang boleh mencaci, namun Trump adalah orang yang sedang melakukan propaganda untuk tujuan politik dan kepemimpinan Amerika di dunia. Desakan lobi Yahudi di Amerika juga tak lepas dari hal itu.
Readmore »»

Senin, Januari 29, 2018

Donald Trump dan Komodifikasi Pesan Politik


Oleh Nurudin
Bontang Post, 21 Desember 2017

Pernyataan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel menyentak dunia. Tidak saja karena konflik Palestina-Israel yang terus berkepanjangan, tetapi usaha untuk mendamaikan kedua negara itu dan kawasan Timur Tengah akan semakin sulit. Bagaimana pun juga Trump sudah mengeluarkan pernyataan, sementara masyarakat dunia dibuat sibuk dari buntut pernyataanya itu.
Sebagai seorang presiden, pernyataan tersebut tentu bukan sesuatu yang dikatakan spontan. Trump tentu sudah berhitung bahwa pernyataannya akan menimbulkan kontroversi. Sebagai sebuah negara yang merasa menjadi polisi dunia, ia seolah merasa bisa berbuat apa saja.
Tulisan ini tidak akan membahas apa dampak dari pernyataan presiden dari partai Republik itu, tetapi akan mengamati dari sisi pesan komunikasi politik. Tidak bisa dipungkiri, apa yang diucapkan itu bentuk lain dari komodifikasi pesan komunikasi dalam usaha meraih kekuasaan  politiknya.
Readmore »»

Selasa, Oktober 31, 2017

Undang-Undang itu Mencerminkan Watak Rezim



     
         UU nomor 2 tahun 2017 menimbulkan pro dan kontra. Artikel ini tidak menganalisis pro dan kontra yang sudah politis itu, tetapi melihat dari sisi lain. Bahwa  produk aturan yang dikeluarkan negara mencerminkan watak pemerintahnya. Bahkan UU itu termasuk alat negara untuk mengendalikan dan mengatur kehidupan masyarakat. Bahkan UU dan aturan lain itu mencerminkan watak sebuah rezim
Readmore »»

Jumat, Oktober 27, 2017

Selamat Datang, Masyarakat Era Tahun 1930-an




Belakangan ini, saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di masyarakat. Betapa masyarakat kita sangat riuh dengan hal yang sifatnya remeh-temeh dan tak subtansial berkaitan dengan isu di sekitar kita. Lihat saja isu soal pribumi, sebelumnya ada istilah populer ndeso, PKI, bani serbet, bumi datar, dan istilah-istilah lain yang cenderung sarkastis.

Kemudian, saya membuka buku karangan saya berjudul Pengantar Komunikasi Massa.  Saat membuka teori komunikasi massa, saya sempatkan membaca bagian yang membahas teori peluru (bullet theory) atau juga dikenal dengan teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory). Setelah itu saya simpulkan bahwa keadaan masyarakat sekarang sama persis dengan yang terjadi pada tahun 30-an sampai 40-an saat Perang Dunia (PD). 

Readmore »»

Sabtu, Mei 25, 2013

Saatnya Public Relations, Bukan Periklanan

Dalam bukunya yang sangat bombastis, The Fall of Advertising and the Rise of PR, Al Ries & Laura Ries mengatakan, saat ini era periklanan sudah mati. Yang muncul kemudian adalah era  PR. Anda misalnya, tidak dapat lagi meluncurkan merek baru dengan iklan semata, sebab iklan tidak punya kredibilitas. Anda hanya dapat meluncurkan produk baru dengan PR.
         Mengapa? Dengan PR, Anda bisa menyampaikan kisah kepada pihak ketiga. Selain itu, PR lebih memberikan persepsi positif daripada kampanye iklan. Tak heran, jika semakin banyak iklan, semakin muak masyarakat. Merek-merek besar saat ini pun dibangun karena kejelian dan kelihaian dalam merencanakan kampanye PR. Artinya, dalam membangun merek sebuah produk tidak cocok lagi digunakan iklan semata. Iklan membutuhkan PR. Sedangkan PR tidak harus membutuhkan iklan.

Readmore »»

Emoticon, Pesan Verbal atau Non Verbal?

Kalau kita aktivis media sosial, ada banyak simbol-simbol tulisan yang sering dibaca. Misalnya saja LOL. Ternyata ia dingkatan dari Laughing Out Loud (ketawa ngakak). Dalam kajian Ilmu Komunikasi ada dua jenis pesan, verbal (lisan dan tulisan), dan non verbal (gerak isyarat, bahasa tubuh dll). Emoticon masuk dalam pesan verbal atau non verbal? Dari pengelompokan dua jenis pesan di atas kita bisa menduganya.

Berikut contoh Emoticon yang dimaksud:

Readmore »»

Selasa, April 30, 2013

Ekonomi Politik Media Menjelang Pemilu

Media Massa di Indonesia mulai menggeliat lagi menjelang Pemilu. Itu tak lain karena peristiwa politik ikut menentukan dinamika masyarakat. Lihat saja, politik juga telah ikut membuat harga bawang naik drastis. Politik juga membuat media massa kita mempunyai motivasi untuk memberitakan, entah mendorong ke arah kemajuan atau sebaliknya. Intinya, media massa mulai bergairah lagi justru ketika politik sudah berkoalisi dengan ekonomi media massa.



Dari Ekonomi ke Politik Media

Dengan memakai kajian pendekatan ekonomi politik media, kegairahan media massa Indonesia tidak bisa dipungkiri.  Isi media sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi politik di luar media. Bagaimana isi media diproduksi, bagaimana kebijakan media dijalankan atau bagaimana media massa menjalankan fungsinya ditentukan oleh kekuatan ekonomi politik tadi.

Selama ini kita mengakui bahwa  pemilik media, moda,l dan pendapatan media dianggap menentukan bagaimana isi media. Ia ikut menentukan arah media; bagaimana berita dipilih dan bagaimana tampilannya. Namun demikian, faktor politik menjelang Pemilu membuat kekuatan politik lebih menjadi faktor dominan. Ini tentu tidak mengingkari keberadaan kekuatan ekonomi media.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa media bekerja karena memang ada fakta-fakta di lapangan. Jika dilapangan ada fakta-fakta X, maka berita media massa juga fakta tersebut. Ini memang hukum pembuatan berita. Berita ada karena fakta ada.

Itulah kenapa berita-berita politik seringkali tampil di media massa karena fakta-fakta politiklah yang banyak terjadi. Ini tidak berarti bahwa media ekonomi tidak terpengaruh. Berita ekonomi tentu akan menyorot sisi ekonomi akibat peristiwa politik. Jika demikian, peristiwa politiklah yang tetap menjadi bahan utama.
Melihat kuatnya pengaruh politik atas media, media perlu lebih hati-hati untuk tak terseret arus. Sebab, semua partai politik dan elit politik sedang membangun wacana yang diharapkan bisa disebarkan melalui media.

Bagaimana bentuk campur tangan elit politik pada media? Elite politik atau katakanlah seorang kandidat bisa “membeli” media massa. Di negara yang tingkat demokrasinya belum dewasa seperti Indonesia hal demikian sangat mungkin terjadi. Di Amerika yang mengklaim sebagai kampiun demokrasi pun, campur tangan para kandidat pada media massa sedemikian besarnya.

Pada tahun 1996, Kongres Amerika Serikat pernah memberikan dana sebenar 10 juta dollar kepada jaringan media massa dunia. Sementara itu, beberapa milyar dollar untuk jaringan media besar yang lain. Karena memberikan dana, pemerintah mengikatnya dengan meminta dukungan kebijakan. Lihat saja, pada tahun 2003, ada legitimasi yang memungkinkan media raksasa melakukan monopoli sebagaimana  disahkan oleh Komisi Hukum Federal Amerika Serikat.

Tidak itu saja, saat ini pasar media berada digenggaman  tujuh perusahaan multinasional diantaranya Disney, Sony, Rime Warber, Viacom, Vivendi, News Corporation dan Berstelsmann. Ketujuh perusahaan itu menguasai hampir 90 persen pasar media (buku, film, majalah, kanal televisi dunia). Bagaimana jika perusahaan-perusahaan itu digunakan secara politis dengan membeli media massa untuk keuntungan para elite politik atau kandidat? Hasilnya sudah bisa bisa diduga.

Tekanan Elit Politik
Campur tangan elit politik ke dalam media juga semakin  transparan. Meskipun tidak ada bukti konkrit, pernyataan presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar Anas Urbaningrum (AU) memfokuskan diri pada masalah hukum menjadi bukti. Waktu itu AU belum ditetapkan sebagai tersangka, tetapi ada kesan yang berkembang bahwa SBY mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera menetapkan AU tersangka.

Jika tidak ada kesengajaan, SBY tidak perlu mengatakannya kepada media, tetapi langsung meminta KPK. Tetapi mengapa itu dilakukan? SBY minta tolong media massa untuk ikut mendesak. Buktinya, media massa sangat ampuh untuk memengaruhi keputusan KPK. Bahkan bocornya Surat Perintah Penyidikan (Spindik) bisa bocor ke media. Kasus di atas hanya salah satu contoh bagaimana tekanan elit politik terhadap kebijakan media massa.

Bahkan bisa dikatakan, partai politik yang menjadi pemenang Pemilu sebenarnya bukan karena partai itu bisa menang, tetapi kemenangan media massa. Bagaimana mungkin sebuah partai politik beserta program-programnya bisa “dipasarkan” ke publik kalau tidak ada media massa yang ikut “memasarkannya”? Hanya, tidak banyak pihak yang mengakui media punya andil besar dalam pemenangan partai politik atau seorang kandidat.  

Menjelang Pemilu, kasak kusuk elit politik sudah semakin transparan. Entah kemampuan mereka membuat opini publik yang nanti disiarkan media massa atau terang-terangan “membeli” jam tayang atau berita. Membangun opini publik misalnya dengan mengatakan “Saya tidak korupsi”, “Saya tidak terlibat”, atau “Saya berani sumpah”. Kata-kata ini sekadar membangun opini publik yang diharapkan media massa ikut menyebarkannya. Anehnya, media massa justru ikut terlibat dukung mendukung pihak-pihak tertentu yang bertikai. Lihat saja, bagaimana kecenderungan berita atau pemilihan nara sumber yang dikemukakan media massa.

Karena media massa punya kekuatan ampuh, ia tidak boleh terjebak pada skenario elit politik. Justru media harus berusaha untuk meliput sesuatu yang tidak ada di permukaan. Politik bukan sesuatu yang dikatakan, tetapi justru yang tidak dikatakan.

Maka, mengungkap “berita dibalik berita” menjadi pilihan cerdas. Soal bagaimana pengaruh berita media pada masyarakat, serahkan kepada publik. Kalau tidak, media akan terus menjadi tertuduh sebagai lembaga yang mewakili kepentingan kelompok elit politik tertentu.

by: Nurudin
          Sumber: Harian Kontan,  27 April 2013


Type rest of the post here Readmore »»

Media Massa dan Debat Cagub


Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah (Jateng) hampir mengalami setback (mangkah mundur). Setidaknya ketika Gubernur Jateng Bibit Waluyo (calon incumbent) mengusulkan agar tidak perlu ada debat kandidat Calon Gubernur (Cagub). Untung saja, hal itu tidak direspon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah. KPU bersikeras tetap melaksanakan debat kandidat dengan alasan itu legal diatur dalam Undang-Undang (UU) nomor 32/2004 tentang Pemerintah daerah dan Peraturan KPU nomor 9/2012. Sementara alasan Cabug incumbent itu karena alasan normatif, dia gubernur yang sudah punya program yang dilaksanakan, sementara kandidat lain belum punya. Dia menganggap debat itu tidak adil karena bisa jadi menguntungkan dirinya.
Readmore »»

Opini Publik Sebagai The Fifth Estate

Dalam kurun waktu lama, masyarakat kita telah dibuai dengan opini publik (public opinion). Artinya, kecenderungan perilaku, kepercayaan atas sebuah kejadian sampai “penghakiman” atas peristiwa didasarkan pada opini publik. Dengan contoh yang lebih konkrit bisa dikatakan begini, masyarakat kita percaya bahwa Anas Urbaningrum benar-benar sebagai tersangka atau tidak atas kasus Hambalang tergantung dari opini yang berkembang. Ibas ”dihakimi” diduga menerima uang 200 ribu dollar AS juga tak jauh berbeda.

Readmore »»

Literasi Media Menjelang Pemilu

Tidak bisa dipungkiri kalau media massa telah berjasa dalam memberitakan dinamika politik menjelang Pemilu. Politik menjadi hiruk pikuk bak pesta para politisi. Sementara masyarakat menontonnya dari luar ruangan. Namun demikian, tanpa disadari hiruk pikuk yang dikonstruksi media massa tersebut justru tidak mencerdaskan masyarakat.  Masyarakat (terutama penonton televisi) bisa jadi, menjadi semakin bingung mengapa tayangan politik banyak mengulas politisi  X secara positif, sementara untuk politisi Y diberitakan serba negatif.


Readmore »»

Rabu, April 24, 2013

Matikan Televisimu Jelang Pemilu

TELEVISI dan politik sama-sama dibutuhkan masyarakat. Saat ini dua instrumen itu memengaruhi segenap kehidupan masyarakat, apalagi menjelang pemilu. Politik berurusan dengan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara atau bagaimana mengelola negara, sementara televisi menjadi daya tarik sebagai reflektor dinamika politik. Politik tanpa televisi ibarat keinginan tanpa nafsu, televisi tanpa politik ibarat makan pecel tanpa sambel. Televisi semestinya memediasi kepentingan negara dengan kepentingan masyarakat.


Kekuatan televisi itu kemudian justru dimanfaatkan (atau disalahgunakan) orang-orang tertentu untuk tujuan politik. Satu persoalan yang mencekam dari televisi ketika sudah ada koalisi dengan politik adalah soal isi atau kontennya. Bahasa dan tayangan yang ditampilkan televisi harus dipahami sarat kepentingan. Ini penting diketahui agar kita tidak "sakit hati" ketika menyaksikan tayangan televisi yang berat sebelah, memihak, atau memojokkan pihak-pihak tertentu.



Dalam kacamata Michael Foucault, bahasa tidak pernah netral, penuh dengan muatan-muatan tertentu. "Language as a discourse is never neutral and is always laden with rules, privileging a particular group while excluding other" (Syahputra, 2013). Dengan kata lain, bahasa-bahasa, tayangan yang dihasilkan televisi tidak berdiri sendiri. Ada lingkup yang memengaruhi proses produksi pesan televisi. 


Readmore »»

Kudeta dan Media


Isu kudeta yang digulirkan elite politik dan disiarkan media massa ternyata mempunyai dampak yang luar biasa. Tidak saja para pejabat tinggi yang memberikan komentar menyangkal adanya kudeta itu, tetapi juga masyarakat yang harap-harap cemas.  Kecemasan masyarakat itu beralasan, harga kebutuhan sehari-hari, seperti bawang, melonjak naik, bagaimana jika terjadi kudeta? Pemikiran pragmatis memang, tetapi nyata terjadi.

Mencermati isu kudeta memang penting. Tetapi, isu itu tidak akan mempunyai harga sama sekali kalau tidak ada peran media. Dengan kata lain, menjadi penting dan berharga atau tidak isu kudeta itu sangat ditentukan bagaimana media mengemasnya. Mengapa media? Mengapa presiden perlu mengatakan bahwa ada sekelompok orang yang akan mengguncang pemerintahannya kepada media massa?

Readmore »»

Senin, Januari 14, 2013

Media Sosial Baru dan Rekayasa Komunikasi


     Political Wave, sebuah lembaga pemantau media sosial,  menemukan dukungan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di media sosial sosial seperti Twitter, Facebook, YouTube, blog, forum dan situs-situs berita online tak kalah besar dibanding dukungan secara fisik. Lembaga itu juga mencatat  adanya gelombang yang terus meningkat yang merepresentasikan menguatnya dukungan masyarakat terhadap KPK.
Beberapa hashtag atau tagar yang pernah populer digunakan  adalah #SaveKPK, #PresidenKemana, #SaveNovel, #BersihkanPOLRI, #SavePolri dan  #TolakRUURevisiKPK.
Bahkan akun selebritis juga cukup aktif membicarakan topik itu   antara lain @addiems, @melaniesubono, @lukmansardi, @pandji dan @sudjiwotedjo. Itu berarti, banyak netizen yang mengirimkan pesan mengenai #SaveKPK lebih dari 4 kali, bahkan sampai puluhan kali, menandakan tingginya aspirasi masyarakat. Pesan mengenai #SaveKPK berpotensi menjangkau sekitar 9.433.741 netizen.

Readmore »»

Jumat, November 23, 2012

Media Sosial Sebagai Alat Propaganda


Perang selalu dikaitkan dengan pesawat tempur, bom, mortir, roket, kapal perang, tank, jumlah korban, kebijakan penyerangan, kesedihan, tangis, dan simpati masyarakat dunia. Itu perang dalam arti klasik dan tradisional. Dalam perang modern, peran media yang ikut memanas-manasi perang juga tidak kalah pentingnya untuk disimak. Dalam era internet sekarang, media sosial (twitter, facebook, youtube, flickr dan media sosial lain) menjadi penentu untuk menentukan perang juga.
Mengapa begitu? Kita bisa menyimak penyerangan Israel ke Palestina akhir-akhir ini. Israel tidak saja menyerang wilayah Rafah, Gaza tetapi juga menggencarkan kampanye dan propaganda melalui media sosial. Pasukan Israel pernah mengonfirmasi serangan udara yang dilakukan pasukannya melalui akun twitternya.

Readmore »»

Media dalam Kasus Legislator

''MAKLUM, yang saya hadapi raja media,'' kata Idris Laena ketika dirinya termasuk salah seorang yang diduga ''memeras'' BUMN. Dalam pemberitaan itu, muncul fakta berupa ucapan, meski bukan fakta sebenarnya dalam makna berita. Muncul pertanyaan yang menggelitik, apakah ada yang salah dengan fakta berita? Apakah media tidak boleh menyimak?

Menurut Van Peursen (1990), fakta diasalkan dari ''penilaian'', sedangkan ''ada'' diasalkan dari ''seharusnya''. Sederhananya, fakta atau lebih tepatnya mengungkapkan fakta tak bisa bebas dari nilai-nilai yang dianut si pengungkap. Bahkan, suatu fakta ''ada'' setelah mendapat penilaian dari si pengungkap.

Readmore »»

Sabtu, September 17, 2011

Media Massa dan Determinisme Teknologi



Determinisme berarti paham yang menganggap bahwa setiap kejadian atau tindakan yang dilakukan manusia merupakan konsekuensi kejadian sebelumnya. Tindakan manusia tersebut tidak hanya menyangkut jasmani tetapi juga rohani. Bahkan apa yang dilakukan manusia sebagai konsekuensi kejadian sebelumnya itu tak jarang di luar kemauannya sendiri.

Jika arti kata determinisme itu dikaitkan dengan teknologi (determinisme teknologi) bisa diartikan bahwa setiap kejadian atau tindakan yang dilakukan manusia itu akibat pengaruh dari perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi tersebut tidak jarang membuat manusia bertindak di luar kemauan sendiri.

Analoginya bisa begini. Pada awalnya, manusialah yang membuat teknologi, tetapi lambat laun teknologilah yang justru memengaruhi setiap apa yang dilakukan manusia. Zaman dahulu belum ada Hand Phone dan internet. Tanpa ada dua perangkat komunikasi itu keadaan manusia biasa saja. Tetapi sekarang dengan ketergantungan pada dua perangkat itu manusia jadi sangat tergantung. Apa yang bisa membayangkan jika manusia yang sudah sangat tergantung dengan HP atau internet dalam sehari tidak memanfaatkannya? Adakah sesuatu yang kurang dalam hidup ini? Inilah yang dinamakan determinisme teknologi (meskipun toh teknologi yang menciptakan manusia itu sendiri).

Luhanian
Determinsime teknologi adalah istilah, sering juga disebut dengan teori, yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan pada tahun 1962 dalam tulisannya The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat dan teknologi tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi yang lain. Misalnya dari masyarakat suku yang belum mengenal huruf menuju masyarakat yang memakai peralatan komunikasi cetak, ke masyarakat yang memakai peralatan komunikasi elektronik.

McLuhan berpikir bahwa budaya kita dibentuk oleh bagaimana cara kita berkomunikasi. Paling tidak, ada beberapa tahapan yang layak disimak. Pertama, penemuan dalam teknologi komunikasi menyebabkan perubahan budaya. Kedua, perubahan di dalam jenis-jenis komunikasi akhirnya membentuk kehidupan manusia. Ketiga, sebagaimana yang dikatakan McLuhan bahwa “Kita membentuk peralatan untuk berkomunikasi, dan akhirnya peralatan untuk berkomunikasi yang kita gunakan itu akhirnya membentuk atau mempengaruhi kehidupan kita sendiri”.

Kita belajar, merasa, dan berpikir terhadap apa yang akan kita lakukan karena pesan yang diterima teknologi komunikasi menyediakan untuk itu. Artinya, teknologi komunikasi menyediakan pesan dan membentuk perilaku kita sendiri. Radio menyediakan kepada manusia lewat indera pendengaran (audio), sementara televisi menyediakan tidak hanya pendengaran tetapi juga penglihatan (audio visual). Apa yang diterpa dari dua media itu masuk ke dalam perasaan manusia dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Selanjutnya, kita ingin menggunakannya lagi dan terus menerus. Bahkan McLuhan sampai pada kesimpulannya bahwa media adalah pesan itu sendiri (the medium is the message).

Media tak lain adalah alat untuk memperkuat, memperkeras dan memperluas fungsi dan perasaan manusia. Dengan kata lain, masing-masing penemuan media baru yang kita betul-betul dipertimbangkan untuk memperluas beberapa kemampuan dan kecakapan manusia. Misalnya, ambil sebuah buku. Dengan buku itu seseorang bisa memperluas cakrawala, pengetahuan, termasuk kecakapan dan kemampuannya. Seperti yang sering dikatakan oleh masyarakat umum, dengan buku, kita akan bisa “melihat dunia”.

Mengikuti teori ini, ada beberapa perubahan besar yang mengikuti perkembangan teknologi dalam berkomunikasi. Masing-masing periode sama-sama memperluas perasaan, dan pikiran manusia. McLuhan membaginya ke dalam empat periode. Di dalam masing-masing kasus yang menyertai perubahan itu atau pergerakan dari era satu ke era yang lain membawa bentuk baru komunikasi yang menyebabkan beberapa macam perubahan dalam masyarakat.

Pertama-tama adalah era kesukuan. Era ini kemudian diikuti oleh era tulisan, kemudian era mesin cetak dan terakhir adalah era media elektronik dimana kita berada sekarang. Bagi masyarakat primitif di era kesukuan, pendengaran adalah hal yang paling penting. Peran otak menjadi sangat penting sebagai wilayah yang mengontrol pendengaran .

Dengan pengenalan huruf lambat laun masyarakat berubah ke era tulisan. Era ini mendudukkan kekuatan penglihatan sepenting pendengaran. Dengan memasuki era tulisan terjadi perubahan yang penting dan perasaan serta pikiran manusia semakin diperluas. McLuhan menyebutkan bahwa perubahan dengan penggunaan tulisan sebagai alat berkomunikasi menjadi pendorong munculnya ilmu matematika, filsafat dan ilmu pengetahuan yang lain.

Era baru tulisan itu berakhir setelah ditemukannya mesin cetak. Mulailah kita memasuki era mesin cetak. Era mesin cetak ini telah mengantarkan manusia pada fenomena komunikasi yang tidak kecil perannya dalam mengubah masyarakat yakni ditemukannya media cetak (surat kabar). Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg menjadi titik awal munculnya “era cetak” dan berbagai aktivitas manusia tersebar lebih luas. Kemampuan yang terjadi pada mesin cetak ini turut memberi andil dalam membentuk pandangan dan opini orang-orang di seluruh dunia.

McLuhan percaya bahwa penemuan telegraf pada tahap selanjutnya, mengantarkan orang-orang memasuki era elektronik. Kemampuan yang terjadi akibat era elektronik menyebabkan perluasan yang lebih baik pikiran dan perasaan manusia. Manusia tidak saja mengandalkan pendengaran dan penglihatan,tetapi keduanya sekaligus. Dengan era elektronik dunia seolah semakin sempit. Inilah yang disebut McLuhan sebagai desa global (global village). Aktivitas manusia tidak akan lepas dari aktivitas manusia yang lain, bahkan desa global telah membentuk manusia menjadi makhluk individual.

Ketika kita memanfaatkan media elektronik seperti komputer yang dipasang peralatan internet kita bisa “mengitari dunia” ini sendirian. Kita bisa berdiskusi, chatting atau mengirim surat dengan e-mail. Dengan e-mail, kita sendiri dan teman yang dituju sajalah yang tahu isi surat itu. Kalau kita ingin mengirimkan kepada yang laini kita tinggal meneruskannya (mem-forward) ke orang yang kita tuju.

Media Massa
Keberadaan media massa (cetak dan elektonik) adalah bagian dari sejarah perkembangan teknologi komunikasi juga. Kalau media massa didudukkan layaknya manusia ia akan terpengaruh oleh perkembangan teknologi komunikasi. Lihat saja, dahulu media cetak hanya dibuat dan disebarkan dengan cara-cara yang sangat sederhana sekali. Acta Diurna (cikal bakal munculnya media cetak) pada zaman Romawi membuktikan itu.

Kemudian berkembang terus sampai yang saat saat ini kita lihat. Tak terkecuali dengan media elektronik. Hampir semua stasiun televisi sering melakukan siaran langsung. Meskipun fenomena yang wajar bagi masyarakat sekarang, kalau kita mengaca pada era sebelumnya itu sebuah lompatan yang jauh.

Perkembangan internet juga membawa konsekuensi dari media massa lain. Semua media massa saat ini memanfaatkan perkembangan internet. Televisi atau media cetak tidak cukup dengan dirinya sendiri, ia membutuhkan peran internet pula.
Jika media massa itu kita pahamai sebagai perangkat teknologinya, ia telah memengaruhi keberadaan manusia. Coba tanyakan pada seseorang apakah dalam sehari bisa menghindar dari terpaan media massa? Jawabannya pasti tidak bisa. Mulai dari bangun pagi hingga tidur malam manusia dipengaruhi media massa.

Penaruh yang sedemikian besar itu menyebabkan ketergantungan manusia pada teknologi sangatlah tinggi. Saya pernah bertanya kepada mahasiswa, “Berapa kali Anda membuka FB setiap hari?”. Jawabannya sangat menyengangkan. Mereka umumnya membuka FB puluhan kali, bahkan tidur dan di kamar mandipun bisa FB-an. Fenomena yang sangat luar biasa bukan?

Determinisme teknologi media massa karenanya memunculkan dampak. Media massa mampu membentuk seperti apa manusia. Manusia mau diarahkan pada kehidupan yang lebih baik media massa punya peran. Namun demikian, media massa juga punya andil dalam memperburuk keberadaan manusia itu sendiri.
(Naskah ini berasal dari bagian buku naskah buku "Teknologi Industri Media dan Perubahan Sosial" buku kumpulan tulisan mahasiswa pasca Sarjana UMM, 2010)
Type rest of the post here
Readmore »»

Kamis, September 15, 2011

Media Barat dan Propaganda Amerika


“Bukan apa yang mereka katakan, melainkan apa yang
mereka tidak katakan” (Jerry D. Gray)

Dalam acara dialog 2 hari antar wartawan dari 44 negara di Bali (2/9/2006), presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengkritik standar ganda yang diterapkan media Barat (baca: Amerika) dalam memberitakan kaum muslim di berbagai negara. Bagi SBY, ada berita yang sengaja ditutup-tutupi dan ada yang sengaja dibesar-besarkan oleh media Barat.

Kegalauan SBY ini sejalan dengan pendapat Jerry D. Gray (2006) yang mengungkap bahwa media Barat tidak saja menutup-nutupi suatu fakta, tetapi membuat fakta yang sebenarnya tidak terjadi. Menurut mantan US Air Force dan wartawan CNBC Asia tersebut, media Amerika telah banyak membohongi publik Amerika sendiri dan masyarakat dunia untuk meraih kepentingannya sebagai “polisi dunia”.

Contohnya kasus Saddam Hussain (penguasa Irak 25 tahun yang akhirnya dihukum gantung pada 21 Agustus 2004 setelah Negara itu diserang Amerika). Ia tidak pernah memiliki senjata pemusnah massal. Namun, dengan bantuan media korporat Amerika, Bush membohongi publik agar percaya pada informasi tersebut. Kampanye kotor yang dilakukan terhadap mantan presiden Irak itu sedemikian hebatnya, bahkan sekiranya kita bisa membersihkan Saddam dari setiap tuduhan, dunia tetap membenci dan memandangnya sebagai seorang jahat.

Bahkan apa yang pernah dicatat oleh Noam Chomsky (2001) semakin memperkuat kenyataan itu. Penentangan yang pernah dilakukan presiden Lybia Muammar Qaddafi atas Amerika pun dituduh sebagai pembangkangan atas perdamaian internasional. Bahkan Amerika (lewat medianya) menyebut Qaddafi dengan “momok bengis terorisme” dan “anjing gila”. Padahal tak tanggung-tanggung Amerika pernah menenggelamkan kapal Libya di teluk Sidra.

Bagaimana Peran Media?
Yang bisa menggambarkan kenyataan tersebut adalah karena Amerika dan media-medianya punya kepentingan terhadap dunia ini. Dalam catatan Joel Andreas (2004), Amerika sangat lihai berlindung di balik ungkapan ideal. Misalnya, hanya alasan untuk merebut kilang minyak di Timur Tengah yang merupakan dua pertiga cadangan minyak dunia, AS berdalih melindungi Timur Tengah dari ancaman komunis, terorisme, dan sebagainya.

Bukti perubahan sikap karena kepentingan bisa dilihat dari kasus Saddam Hussein dan Osama Bin Laden (Pimpinan Al Qaeda). Saddam Hussein berkuasa atas dukungan AS pada tahun 1963 setelah menggulingkan Raja Irak Abdel Karim Qasim. Tetapi, Saddam Hussein justru menasionalisasi minyaknya dan tidak ingin membaginya bersama AS. Tentu saja AS was-was dan marah. Sampai-sampai Henry Kissinger mengatakan bahwa minyak teralu penting dikelola bangsa Arab dan Timur Tengah. Akhirnya, Saddam Hussein dengan berbagai cara harus digulingkan. Setelah tahun 1991 tidak berhasil, baru tahun 2003 berhasil dengan menyisakan persoalan yang tidak kunjung usai karena AS justru semakin memperkuat kekuasaanya di Irak. Restrukturisasi yang pernah dijanjikan juga tidak pernah dilakukan.

Apa yang terjadi pada Saddam Hussein, hampir sama dengan yang dialami Osama Bin Laden. Awalnya, ia adalah sekutu Amerika ketika perang melawan Uni Soviet di Afganistan. Tetapi, setelah Uni Soviet keluar dari Afganistan, Osama Bin Laden tidak membela kepentingan AS. Bahkan berusaha memeranginya. Osama tidak suka cara-cara Amerika menguasai dunia, termasuk terlalu “menganakemaskan” Israel. Maka dia kemudian menjadi musuh nomor 1 AS. Apalagi kasus peledakan gedung World Trade Center (WTC) tahun 2001 semakin mengukuhkan AS untuk memerangi terorisme dunia. Artinya, dengan alasan memberantas teroris, AS semakin punya alasan kuat mencengkeram kekuasaannya.

Ambisi AS ini ternyata didukung juga oleh media massanya. Itu dimulai pada tahun 1954. Sebabnya tak lain karena televisi-televisi AS dikuasai oleh perusahaan besar dunia yang punya kepentingan ekspansi bisnis ke negara lain. Sebut saja misalnya NBC oleh GE, CBS oleh Viacom, ABC oleh Disney, Fox oleh Rupert Murdoch’s News Corporation, dan CNN oleh Time Warner. Bahkan dewan direktur mereka juga anggota direksi perusahaan pembuat senjata dan perusahaan lain di dunia. Semua media itu tentu saja mendukung perang AS karena punya kepentingan bisnis di dalamnya.

Jadi jika presiden SBY mengatakan media Barat mempunyai standar ganda sudah bukan menjadi rahasia lagi. Itu tak lain karena media Barat mempunyai agenda tersembunyi yang didukung oleh kebijakan pemerintahnya. Dalam cultural imperialism theory (teori imperialisme budaya) dikatakan bahwa media Barat memang sengaja ingin menyebarkan budayanya lewat berbagai tampilan, berita agar media Timur dan budaya Timur menjadi “Barat”.

Bagaimana Dampaknya?
Dampak nyata dari pemberitaan media Barat tersebut kita akhirnya menjadi “Barat”. Berbagai sikap, perilaku, atribut, tolok ukur kita memakai standar Barat. Misalnya, bagaimana kita menilai seorang perempuan cantik? Biasanya akan memakai standar langsing, kulit kuning atau putih, rambut panjang kalau perlu agak pirang (makanya banyak perempuan Indonesia ramai-ramai rambutnya dipirang), hidung mancung, tubuh semampai yang semua kriteria itu karena faktor budaya Barat yang sudah sedemikian masuk ke pemikiran dan perilaku kita.

Tidak berlebihan jika pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat pernah mengatakan bahwa kita saat ini memiliki dua dunia; dunia nyata dan dunia yang sudah dibatasi oleh kamus memori manusia dan membatasi tentang realitas, yakni newspeak. Dunia nyata adalah dunia apa adanya tanpa pengaruh kamus tertentu berdasar pengamatan kita dalam arti sebenarnya. Sedang dunia newspeak adalah dunia yang diciptakan untuk kepentingan Amerika atas penggunaan kata dan pemberian makna tertentu.

Dengan demikian, media Barat telah menjadi kamus dari apa yang ingin dilakukan oleh negara Barat atas dunia ini. Dunia newspeak telah mempengaruhi pikiran kita, menuntun, dan memberikan kategori tertentu kepada realitas yang kita hadapi sehari-hari. Dunia newspeak juga tanpa sadar telah mengarahkan kita untuk berbuat dan tidak berbuat sesuai “kamus” tersebut. Kita menjadi baik dan tidak baik juga bisa karena “kamus” itu.

Melihat kenyataan tersebut tak ada cara lain media massa kita harus melakukan rekonstruksi peristiwa yang disajikan media Barat. Artinya, tidak semua yang berasal dari Barat harus diterima dan ditelan mentah-mentah. Muatan-mutan lokal meskipun seringkali masih dipahamai sebagai “yang belum modern” lebih berguna untuk melawan hegemoni dunia newspeak tersebut. Mengirim wartawannya ke luar negeri meskipun menjadi kebanggaan media, bukan sesuatu yang hebat bagi masyarakat perkembangan Indonesia di masa datang. Sebab tak sedikit diantara mereka yang tidak melakukan investigasi ke lapangan, tetapi hanya sekadar mengutip dari koran-koran dimana dia berada. Lalu apa bedanya dengan mengutip dari kantor berita luar negeri?

Agaknya kita perlu belajar dari kode etik koran The New York Times yang sudah berumur 100 tahun lebih dan telah mengawal 20 presiden Amerika dan mempunyai reputasi baik dibanding koran Amerika yang lain, “All members of the news staff of the New York Times share a common and essensial interets in protecting the integrity of the newspaper” Integritas, kemampuan dan reputasi itulah yang penting. Artinya, kepercayaan pembaca adalah nomor satu.

Sumber: Solo Pos, 8 September 2006
Type rest of the post here
Readmore »»

Minggu, Agustus 21, 2011

Kodrat Sinetron itu Menghibur


Oleh Nurudin
(Tulisan ini merupakan pengantar buku "Sinetron, Menghibur Diri Sampai Mati" kumpulan tulisan karya mahasiswa penempuh mata kuliah Komunikasi Massa, Ilmu Komunikasi UMM, 2011)

Kehadiran sinetron adalah keniscayaan sejarah. Ia hadir karena tuntutan zaman. Dengan kata lain, meskipun punya dampak yang tidak diinginkan, ia akan tetap hadir di tengah penonton televisi Indonesia. Menolak bukan tindakan yang gampang. Lebih bijak jika melakukan antisipasi dengan melihat dampak plus minusnya.

Tak bisa dipungkiri, sinetron Indonesia memang telah banyak yang mengkritik. Kritikan itu bermuara pada; alur sinetron terlalu didramatisir yang jauh dari kenyataan di kehidupan nyata, sinetron hanya menuruti selera pasar saja, kepentingan televisi dalam mencari untung sendiri sangat transparan, pemerintah tidak bisa berbuat banyak, atau tidak ada lembaga penekan yang kuat. Tapi, kritikan tetap kritikan, sinetron akan jalan terus.


Pihak pengelola televisi memang menikmati kehadiran sinetron. Bagaimana tidak, sinetron ini justru yang mempunyai rating tinggi. Rating tinggi itu sama artinya dengan pendapatan melimpah karena penonton banyak dan pemasukan dari iklan juga tinggi. Begitu ada sinetron dengan genre tertentu sukses di sebuah stasiun televisi, akan diikuti oleh stasiun yang lain. Jadi, ada saling tiru atas tayangan di televisi tanah air. Hanya beberapa stasiun televisi tertentu saja yang bertahan tidak mudah meniru tayangan stasiun televisi lain. Namun memang dari segi pendapatan tidak melimpah. Ini memang pilihan orientasi masing-masing televisi.
Itu belum berbicara tentang dampak buruk yang ditimbulkannya. Penonton sinetron kebanyakan bukan berasal dari orang yang berpendidikan tinggi (dari segi ilmu bukan sekadar gelar semata). Mereka inilah penonton yang dieksploitasi oleh tayangan. Dan mereka inilah yang memang tidak mau diajak untuk berpikir kritis. Kelompok ini bisa jadi akan beranggapan bahwa apa yang ditayangan televisi itulah kenyataan sebenarnya. Padahal bukan seperti itu, bukan?

Subjektivitas Media
Media massa (di dalamnya beragam tayangan, termasuk sinetron) itu hanya mengonstruksi realitas yang terjadi di lapangan. Namanya mengonstruksi, jadi tidak semua yang diberitakan di lapangan itu bisa dilaporkan. Media mempunyai pilihan-pilihan untuk memberitakan fakta yang dilihatnya, melalui seorang wartawan. Lalu apakah wartawan yang memberitakan sebuah kejadian itu memberitakan realitas? Ia memberitakan realitas, tetapi realitas media bukan realitas sebenarnya.

Penjelasannya begini. Apa yang disajikan media massa itu memang sebuah realitas. Sebut saja realitas pertama (first reality). Sebagai realitas pertama ia tampil apa adanya. Ketika seorang melihat sendiri aktivitas di sekitarnya (misalnya gunung meletus) berarti ia melihat realitas senyatanya atau realitas pertama. Dalam posisi ini, fakta-fakta terjadi begitu saja sesuai “hukum alam”. Dengan kata lain, realitas pertama tentang aktivitas gunung meletus seperti yang dilihat oleh masing-masing orang, termasuk para wartawan.

Kemudian, dengan kemampuan yang dimiliki para wartawan itu merekam setiap kejadian dalam otaknya melalui alat bantu, entah menulis langsung, merekam pakai kamera atau memotretnya. Apa yang dicatat dan direkam wartawan ini tentu saja sangat tergantung dari filter masing-masing wartawan. Filter dalam kajian komunikasi massa bisa berwujud kondisi psikologis, jenjang pendidikan, pandangan politik, emosi, kepentingan, budaya atau sekadar kondisi fisik. Filter-filter itu harus diakui memengaruhi apa yang wartawan catat, rekam dan tulis.

Kalau sudah begini apakah yang diberitakan oleh wartawan tersebut sebuah realitas? Wartawan memang melaporkan realitas yang direkam dan dicatatnya karena ia memberitakan fakta-fakta di lapangan. Namun demikian realitas yang sudah diberitakan itu sangat dipengaruhi dan tergantung pada filter yang dipunyai masing-masing wartawan. Jadi, wartawan itu tetap memberitakan realitas tetapi realitas yang sudah dikonstruksi. Sebut saja realitas kedua (second reality).

Dengan demikian, wartawan yang memberitakan aktivitas gunung meletus sampai menimbulkan kecemasan masyarakat itu sebuah realitas, tetapi realitas kedua yang sudah bercampur dengan banyak aspek.

Kalau sudah begitu apakah yang diberitakan media massa itu subjektif karena sangat tergantung dari sang wartawan? Untuk menjawab ini ada baiknya kita mengutip pendapat Jakob Oetama. Dalam buku saya berjudul Jurnalisme Kemanusiaan, Membongkar Pemikiran Jakob Oetama tentang Pers dan Jurnalisme (2010) terungkap bahwa pemberitaan media massa itu objektivitas yang subjektif. Semua kejadian yang diberitakan media itu merupakan sesuatu yang objektif. Sedangkan bagaimana kejadian itu dipilih menjadi berita atau dilaporkan sebagai berita, jelas sesuatu yang subjektif.

Berita itu bukanlah kejadianya itu sendiri, tetapi berita ialah laporan tentang sesuatu kejadian aktual yang sudah melalui beberapa tahapan dan proses sampai menjadi sebuah berita yang muncul di media. Kejadian adalah realitas pertama (sebagaimana disebutkan di bagian awal), sementara berita adalah realitas kedua (ada yang menyebut realitas media).

Diakui atau tidak, faktor subjektivitas sering muncul dalam pembuatan sebuah berita. Ini tak lain karena dalam pembuatan berita, faktor pribadi wartawan terlibat jauh dalam pemilihan fakta-fakta di lapangan. Wartawan menulis berita apa adanya saja sudah subjektif karena ia memilih dan memilah fakta-fakta yang disajikan (bukan fakta keseluruhan). Apalagi kepentingan media ikut memengaruhinya.

Contoh kecil saja begini. Ketika memberitakan korban kecelakaan yang dialami oleh seorang perempuan umur 25 tahun, masing-masing wartawan bisa membuat profiling (pelabelan) yang berbeda satu sama lain. Bisa jadi seorang perempuan itu disebut dengan “perempuan karir”, “perempuan yang bertubuh bahenol”, “wanita yang punya rambut terurai panjang”, atau “wanita yang berwajah manis”. Itu semua sangat tergantung dari persepsi, latar belakang, pengalaman, tuntutan kerja wartawan dan misi-visi medianya. Apalagi jika wartawan yang menulis itu punya kepentingan pribadi di balik pembuatan sebuah berita.

Berkaitan dengan itu, Dennis McQuail (2000) pernah juga mengungkapkan tentang peran media yakni as a window on events and experience dan as a mirror of events in society. Media itu seperti sebuah jendela. Ketika seseorang membuka jendela rumah, ia bisa memandang peristiwa di luar jendela itu. Namun demikian, peristiwa yang ada hanya sebatas sudut pandang jendela tersebut dan bukan semua peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Jendela juga bisa dianalogikan sebagai sebuah jendela. Melalui “jendela itu” kita bisa membaca peristiwa tentang aktivitas gunung Bromo. Tetapi sekali lagi, bukan semua peristiwa yang terjadi, tetapi hanya sebatas sudut pandang yang bisa ditangkap media (realitas kedua).

Sementara itu, media juga bisa sebuah cermin peristiwa di masyarakat (a mirror of events in society). Cermin hanya sebuah pantulan dari kejadian, sama seperti kalau kita sedang bercermin. Apa yang tersaji dalam cermin bukan kenyataan sesungguhnya, tetapi sekadar pantulan dari fakta. Sebagai cermin, media pun hanya mampu memantulkan sebagian kecil dari kejadian yang berlangsung di masyarakat dan tak mampu memenuhi seluruh keinginan manusia.

Bagaimana Dengan Sinetron?
Sinetron jelas bukan berita. Berita saja kalau sudah masuk dalam media massa bukan kejadian atau realitas sesungguhnya. Apalagi jika dikaitkan dengan sinetron yang penuh dengan rekayasa alur cerita. Tujuannya, yang penting adalah menghibur. Ini poin penting yang bisa kita lekatkan pada sinetron Indonesia. Bahkan bisa dikatakan “kodrat sinetron itu menghihur”.

Mengapa begitu? Realitas menghibur dari sebuah sinetron itu adalah bisa dinikmati dengan tidak memakai perangkat ilmu pengetahuan. Semua orang yang normal, bisa mendengar dan melihat bisa menonton sinetron. Bahkan sambil tidur pun tak masalah. Jadi sinetron itu sangat sangat subjektif, bukan?

Karenanya, judul yang diangkat dalam buku itu adalah Sinetron, Menghibur Diri Sampai Mati. Judul itu bisa mempunyai dua arti; pertama, sinetron akan terus menghibur sampai penontonnya bosan sendiri, untuk tak mengatakan mati disebabkan menonton sinetron. Kedua, sinetron hanya bisa dibunuh fungsi menghiburnya kalau televisinya dimatikan.

Buku yang tersaji di tengan pembaca ini adalah cara mahasiswa menganalisis kehadiran sinetron. Karena mahasiswa, jelas khas yang ada pada dunia mereka dengan beberapa kelemahan yang melekat. Tapi, sebagai mahasiswa mereka tetap punya kewajiban untuk meninjau dari sudut pandang akademis. Sebagai mahasiswa tidak hanya menganalisis dari segi positif tetapi bagaimana mereka bisa melakukan pembelajaran pada pembacanya. Sebut saja dengan istilah media literacy (melek media). Jadi, apa yang tersaji dalam buku ini bagian dari media literacy yang dilakukan mahasiswa. Meskipun tidak berdampak hebat, tetapi usaha mereka tetap diacungi jempol.

Buku ini tersaji dari naskah kuliah Komunikasi Massa Semester Pendek (SP) dalam waktu 1 bulan. Sebuah langkah yang cerdas karena dalam waktu singkat bisa dihasilkan sebuah buku.

Semoga buku ini memberikan alternatif sistem pembelajaran dalam perkuliahan yang selama ini dilakukan dan menyadarkan pembaca betapa sinetron di Indonesia tidak saja membodohi tetapi juga mencemaskan bagi perkembangan generasi mendatang. Jangan sampai pembodohan itu seolah menjadi legal dengan tayangan sinetron.

Type rest of the post here
Readmore »»

Twitter

Followers

Statistik

Adakah nama Anda di sini?


 

Google Analytics